Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro

Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro
Sebelum puncak kegiatan Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa Tasyakuran dan Peresmian Pressroom, terlebih dahulu para kulitinta yang bekerja di wilayah Kabupaten Purworejo bersama Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM menebarkan benih ikan Nila sebanyak 5.000 ekor di Bendung Boro, Sabtu (28/3).

Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan

Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan
Rangkaian kegiatan puncak Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa penanaman 300 pohon langka di Kawasan Potensi Wisata Gegermenjangan, Sabtu (28/3).

Selasa, 31 Maret 2009

Kampung Lelaki (1)


Mencari seorang perempuan usia produktif di Desa Ngenthak, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Puworejo, Jawa Tengah, merupakan pekerjaan yang lumayan sulit. Kebanyakan dari mereka sudah berusia lanjut (lansia), atau malah masih berusia remaja dan anak-anak. Oleh sebab itu, ketika ada orang yang mempunyai kerja, terpaksa ya para lelaki dan perempuan lansia tadi yang memasak di dapur. Hal itu menyebabkan orang-orang lebih suka menyebut Desa Ngenthak sebagai “Kampung Lelaki.”

Lantas kemana perempuan usia produktif asal desa tersebut? Menurut keterangan beberapa warga yang sempat ditemui mengatakan, bahwa para perempuan usia produktif Desa Ngentak sebagian besar lebih memilih pergi ke luar negeri sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Boleh dikatakan hampir setiap Kepala Keluarga (KK) bisa dipastikan ada perempuannya yang menjadi TKW di luar negeri. Entah itu anak perempuan dari keluarga itu atau malah istrinya sendiri yang pergi ke luar negeri. Ada juga yang sekeluarga pergi semua, baik ibu maupun anak perempuannya menjadi TKW. Pokoknya selesai sekolah SLTA sudah bisa dipastikan pergi ke luar negeri jadi TKW. Makanya jangan heran jika berkunjung ke Desa Ngenthak, mendapati para lelaki sedang mengasuh anak-anaknya, memasak dan mencuci pakaian. Hal itu sudah biasa di desa itu, para perempuan mencari nafkah sebagai TKW, sedangkan kaum lelaki bertugas mengurus urusan rumah tangga.

Ada yang menjadi TKW di Arab Saudi, Hongkong, Malaysia, Brunei Darusalam, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Abu Dhabi, Kuwait dan Mesir. Rata-rata mereka bekerja di sektor informal yaitu menjadi pembantu rumah tangga di sana. Akan tetapi tidak sedikit juga dari mereka yang bekerja di sektor formal, seperti menjadi karyawan pabrik, perkebunan dan menjadi pelayan di super market. Para TKW tadi sebagian besar berhasil selama bekerja di luar negeri, terbukti sekarang ekonomi keluarganya berubah total semakin kaya raya. Bisa membeli tanah, sawah, sepeda motor, membangun rumah dan lain sebagainya. Tak heran melihat kesuksesan itu warga masyarakat lainnya lalu ikut-ikutan ingin menjadi TKW, ingin segera sukses seperti para tetangga lainnya.

Menurut Kepala Desa Ngenthak, Supriyono (52) desanya selama ini terkenal sebagai desa yang warga perempuannya pergi ke luar negeri bekerja sebagai seorang TKW. Mungkin bisa dibilang tidak hanya se-Kecamatan Ngombol, melainkan se-Kabupaten Purworejo. “Sekarang ini agak mendingan, sebab rata-rata masih habis masa kontraknya lantas mereka pulang ke desa. Akan tetapi sebentar lagi mereka pasti akan pergi lagi, untuk memperbaharui kontrak. Otomatis bakal kehabisan warga perempuan yang berusia produktif. Rata-rata jika sudah merasa sukses di sana, pasti akan berkelanjutan, mereka rame-rame memperbaharui kontrak lagi. Mumpung masih ada kesempatan, mumpung masih kuat tenaganya, sebab bagi TKW yang sudah pernah bekerja di luar negeri ketika ingin memperpanjang kontrak lebih mudah, tidak lagi harus berlama-lama di penampungan dan menjalani pelatihan lagi. Mereka sudah dianggap tenaga professional yang berpengalaman di bidangnya, yah tinggal berangkat saja,” ungkap Supriyono. “Hal itu saya anggap lumrah, kenyataannya mencari pekerjaan di negara sendiri sangatlah sulit, tidak bisa disalahkan kalau mereka lebih memilih bekerja sebagai TKW di luar negeri dan jauh dari keluarga. Menurut mereka gajinya lebih banyak dan kerjanya juga lebih gampang di sana,” imbuhnya. (Yun)

Jumat, 13 Maret 2009

Peserta Minta Perpanjangan Waktu


Antusiasme siswa-siswa SMAN 6 Purworejo, ketika mengikuti ceramah Sosialisasi Peran dan Fungsi Pers oleh wartawan yang tergabung dalam Kelompok Kerja Wartawan Purworejo (KKWP) patut diacungi jempol. Betapa tidak, acara yang digelar Selasa (17/2) itu, berjalan sangat reaktif. Narasumber yang terdiri dari Atas S Danusubroto (Majalah Legalitas), Hari Wicaksono (TPI) dan Nur Kholik (Harian Suara Merdeka) usai memaparkan makalah, langsung dihujani pertanyaan bertubi-tubi. Mulai dari suka dukanya menjadi seorang jurnalis, teknik menulis hingga bagaimana cara menjadi wartawan yang baik.

Bahkan ketika waktu yang telah disepakati hampir selesai, para siswa tersebut minta perpanjangan waktu karena ada beberapa pertanyaan yang belum mereka sampaikan. Tak ayal lagi kegiatan tersebut molor hingga 4 jam dari 2 jam yang telah disepakati. "Saya cukup gembira melihat antusiasme peserta yang sangat tinggi. Ini menjadi barometer bahwa mereka sangat tertarik dengan dunia jurnalistik. Mudah-mudahan materi yang kita sampaikan dapat menambah wawasan bagi mereka," ujar Atas.

Sementara itu Ketua Hari Pers Nasional (HPN) Tahun 2009 Kabupaten Purworejo, Eko Mulyanto, mengatakan kegiatan ceramah ini merupakan rangkaian kegiatan HPN Tahun 2009 Kabupaten Purworejo. "Ini adalah salah satu bentuk nyata darma bakti kita, para jurnalis pada dunia pendidikan. Kita berusaha mengenalkan seluk beluk dunia jurnalistik kepada siswa. Berbagi ilmu pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Saya yakin dari sekian puluh siswa yang ikut, pasti ada yang tertarik untuk menggeluti dunia kewartawanan. Semoga ada salah satu yang nantinya menjadi seorang jurnalis proesional di masa mendatang," kata Eko. "Paling tidak kita memberikan pengertian betapa pentingnya peran dan fungsi media dewasa ini. Sehingga di sekolahpun, diharapkan ada media baik itu berupa majalah dinding, buletin atau majalah, yang mampu menjadi wadah siswa dalam mengapresiasikan kreatifitasnya terutama belajar menulis dan mengemukakan pendapat," imbuhnya.(Sus)

Jumat, 20 Februari 2009

Wartawan Ziarah ke Makam Tokoh Pers Daerah


Mengawali kegiatan Hari Pers Nasional (HPN) Kabupaten Purworejo Tahun 2009, sejumlah wartawan media cetak dan elektronik yang tergabung dalam Kelompok Kerja Wartawan Purworejo mengadakan ziarah ke makam R. Soeprapto di Desa Banyuurip, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Senin (9/2). Suprapto semasa hidupnya dikenal sebagai seorang wartawan yang baik dan memegang teguh idealisme pers Indonesia. Ia merupakan sesepuh dan tokoh panutan wartawan di wilayah eks-Karesidenan Kedu. Suprapto dahulu pernah bekerja sebagai wartawan di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara dan pernah menjadi Ketua PWI wilayah Kedu, yang membawahi 5 kabupaten kota. Yakni Kabupaten Purworejo, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Magelang dan Kodya Magelang.

Menurut ketua HPN 2009 Kabupaten Purworejo Eko Mulyanto, kegiatan ini dilakukan sebagai salah satu cara menghargai dan mengenang para pendahulu, khususnya tokoh pers di daerah. Dengan mengenang jasa tokoh tadi, diharapkan para wartawan yang kini masih bertugas dapat menauladani perjuangan para pendahulunya. Sehingga akan terbentuk wartawan-wartawan professional yang gigih terus memperjuangkan orang-orang yang tak berdaya dan tertindas, dengan memegang teguh idealisme pers, kode etik serta mempertahankan Pancasila sebagai satu-satunya dasar negara kita.

Lebih jauh Eko Mulyanto mengungkapkan, selain kegiatan tadi, para kuli tinta di Purworejo itu juga akan mengadakan serangkaian kegiatan lain. Diantaranya mengadakan ceramah Sosialisasi Peran dan Fungsi Pers di 5 SMA Negeri, penaburan benih ikan di Sungai Bogowonto, menanam tanaman langka di Geger Menjangan dan diakhiri dengan tasyakuran serta peresmian penggunaan Pressroom di lingkungan Setda Purworejo. “Kami ingin membuktikan kepada masyarakat, bahwa kamipun masih sempat untuk berbuat sesuatu untuk bangsa ini melalui kegiatan peduli lingkungan hidup dan bhakti social,” ujar Eko. (Siwi)

Novel basa Jawa “Trah” Mendapat Rancage Award 2009


Novel berbahasa Jawa berjudul “Trah,” karangan Atas S Danusubroto mendapatkan Rancage Award 2009 dari Yayasan Kebudayaan Rancage. Novel setebal 268 halaman yang diterbitkan oleh penerbit Narasi Yogyakarta itu, berhasil menyisihkan 3 judul buku sastra berbahasa Jawa yang terbit di tahun 2008. Diantaranya Lintang Biru, Antologi Geguritan Bengkel Sastra Jawa 2008, Dongane Maling karya Yohanes Siyamta dan Singkar novel karya Siti Aminah. Dari keempat judul tadi, yang dapat ikut dinilai untuk mendapatkan penghargaan Rancage Award 2009 hanya novel Singkar karya Siti Aminah dan novel Trah karya Atas S Danusubroto.

Demikian dikemukakan oleh Ketua Dewan Pembina Yayasan Kebudayaan Rancage, Ajip Rosidi, Senin (2/2) lalu. Ajip juga mengatakan bahwa penghargaan ini merupakan penghargaan yang ke-21, “Ini merupakan penghargaan yang ke-21 kepada para penulis dan orang-orang yang benar-benar memiliki kepedulian dan telah berjasa besar terhadap pelestarian bahasa ibu. Sehingga bukan hanya bahasa Jawa, akan tetapi penghargaan itu juga diserahkan kepada para penulis karya sastra berbahasa Sunda, Bali dan juuga pernah diberikan kepada penulis karya sastra berbahasa Lampung,” ungkap Ajip Rosidi.

Lebih jauh Ajip menerangkan, pertama kali penghargaan sastra Rancage diberikan kepada penulis karya sastra berbahasa Sunda, di tahun 1989. Mulai tahun 1994, karya sastra berbahasa Jawa juga mendapatkan penghargaan tersebut. Ajip juga menerangkan, bahwa penghargaan sastra Rancage tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Akan tetapi berkembang terus, di tahun 1997, penghargaan sastra Rancage juga diberikan kepada karya sastra berbahasa Bali. Penghargaan paling bergengsi di kalangan sastrawan berbasis bahasa ibu itu, di tahun 2008 juga diberikan kepada sastrawan dengan karya sastra berbahasa Lampung. “Saya agak prihatin dengan penerbitan buku-buku berbahasa ibu yang kurang mendapatkan perhatian serius. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin turunnya penerbitan buku-buku berbahasa daerah. Seperti di tahun 2007, buku yang terbit dengan menggunakan bahasa Sunda ada 32 judul, akan tetapi pada tahun 2008 menurun drastis menjadi 10 judul buku terbitan berbahasa Sunda,” katanya.

Novel sastrawan asal Desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah ini, terpilih mendapatkan penghargaan, menurut Ajip selain isi ceritanya memang bagus, juga memiliki kekuatan dalam aspek kulturnya. Tidak hanya memperlihatkan kelas masyarakat bangsawan dengan rapih dan teliti. Akan tetapi juga memperlihatkan sifat manusia yang mau mengalah, rasa hormat kepada orang tua, sabar dan rendah hati lebih ditandaskan di sini sebagai sebuah tindakan yang luhur. Tatakrama, percakapan dan hubungan di antara tokoh-tokohnya terjaga dengan lebih baik.

Sementara itu Sunarko Budiman asal Tulungagung, Jawa Timur juga mendapatkan penghargaan dari Yayasan Kebudayaan Rancage. Dia dipilih karena dinilai besar jasa, pengabdian, perjuangan dan kepeduliannya terhadap pelestarian bahasa Jawa. Khusus untuk bahasa Sunda penghargaan sastra Rancage diberikan kepada Etti RS dengan karyanya buku kumpulan sajak Serat Panineungan. Sementara itu penghargaan kepada orang yang telah besar jasanya terhadap perkembangan dan pelestarian bahasa Sunda, jatuh pada Nano S. Dia dinilai telah berhasil turut melestarikan dan mengembangkan bahasa Sunda lewat lagu-lagu kerawitan hasil ciptaannya. Penghargaan sastra berbahasa Bali diraih oleh I Nyoman Tusthi Eddy, lewat bukunya berupa kumpulan sajak berjudul Somah. I Nengah Tingen, yang telah berhasil menyusun buku pedoman aksara Bali dan telah menulis 40 judul buku dalam bahasa Bali, juga dinobatkan sebagai peraih Rancage Award 2009. I Nengah Tingen dinilai sebagai tokoh yang besar jasanya terhadap perkembangan bahasa serta sastra Bali. Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan penghargaan Samsudi 2009 kepada Aan Merdeka Permana penulis buku bacaan anak-anak berbahasa Sunda Sasakala Bojongemas. Para sastrawan yang mendapatkan penghargaan tadi selain diberikan piagam juga berhak atas hadiah uang sebesar Rp 5 juta. Kecuali penghargaan Samsudi yang besarnya hadiah uang hanya Rp 2,5 juta. (Sus)

Selasa, 16 Desember 2008

Pemkab Purworejo Desak Pemerintah Pusat Luruskan Tempat dan Tanggal Lahir Pahlawan Nasional


Pemkab Purworejo akan berupaya mendesak pemerintah pusat, melalui kementrian Sosial untuk meluruskan penulisan, tempat dan tangal lahir, pahlawan nasional, komponis, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya “, WR Soepratman, sebagaimana tertuang dalam penetapan Pengadilan Negeri Purworejo.

Penegasan tersebut disampaikan Assisten Sekda Bidang Administrasi dan Umum, drh Abdulrahaman.di sela-sela rapat koordinasi, Sabtu (29/11), yang membahas rencana tindak lanjut dari penetapan tersebut. Dikemukakan bahwa untuk keperluan tersebut pihaknya akan membentuk tim, yang akan dikukuhkan melalui surat keputusan bupati. Tim ini nantinya setelah berkoordinasi dengan Pemprop Jateng, akan melanjutkan ke Badan Pembina Pahlawan Nasional pada Kementrian Sosial di Jakarta.

Ia mengakui, sebetulnya niat tersebut sudah ada sejak tahun lalu. Setelah ada penetapan dari PN Purworejo nomor 04/Pdt/P/2007/PN PWR, tanggal 29 maret 2007, sampai saat ini belum ada tindak lanjut. “Sebetulnya tahun lalu sudah ada rencana, namum karena ada sesuatu hal, sehingga belum terlaksana. Baru saat ini rencana itu akan dilaksanakan, kendati waktunya sudah mempet” katanya.

Menurutnya, tim yang akan dibentuk beranggotakan para pimpinan satker terkait, ditambah para budayawan. Tim ini sebelum ke Jakarta akan berpamitan dengan keluarga WR Soepratman yang berada di Desa Somongari. Kemudian juga akan menghubungi keluarga yang berada di Jakarta dan kota lainnya.

Tim ini meminta kepada pempus untuk segera meluruskan dan menyosialisakan fakta sejarah sebagaimana penetapan PN Purworejo. Dimana dalam penetapan tersebut tertuang bahwa WR Soepratman lahir pada hari Senin Wage, tanggal 19 Maret 1903, di Dukuh Trembelang Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Sebab selama ini terdapat versi lain tentang tanggal dan tempat lahir WR Soepratman.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan pemprop, surat permohonan disampaikan kepada Gubernur Jawa Tengah. Nantinya Gubernur Jateng yag akan melayangkan surat permintaan kepada Menteri Sosial di Jakarta. Namun demikian, untuk memperlancar usulan dari gubernur, pihak pemkab akan melakukan koordinasi ke Depsos.(Sus)

Minggu, 14 Desember 2008

Jangan Mudah Percaya Pada Berita Kabar Burung Yang Sarat Kepentingan


Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia diperingati secara sederhana oleh Pemkab Purworejo, Selasa (9/12/08). Upacara peringatan dilakukan di halaman Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Purworejo diikuti oleh seluruh staf di lingkungan Setda Purworejo dan pimpinan Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang ada. Dengan inspektur upacara Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM.

Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan dukungannya terhadap upaya pemberantasan korupsi di negeri tercinta ini. Bahkan ia menandaskan agar pemberantasan korupsi tersebut tidak bersifat tanggung-tanggung, melainkan harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Namun disisi lain, lanjut Bupati, dalam upaya pemberantasan tersebut kita harus menghormati azas praduga tak bersalah. Menurutnya, hal ini yang menjadi kendala, karena aparat hukumlah yang mengetahui kesalahan-kesalahan yang dimungkinkan terjadi. Sedangkan berita yang tersebar di masyarakat, belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Karena berita yang tersebar di masyarakat tentunya sudah dicampuri dengan kepentingan-kepentingan tertentu.

Pada kesempatan tersebut bupati meyerahkan secara simbolis, bantuan stimulan pembangunan kepada desa. Bantuan senilai Rp 188.500.000,00 itu bersumber dari APBD Kabupaten Purworejo tahun 2008. Bantuan diperuntukkan bagi 43 lokasi. Besarnya bantuan bervariasi, tergantung kebutuhan yang diajukan panitia dan hasil verikasi tim yang dibentuk pemkab.

Terkait bantuan tersebut, Bupati menyatakan bahwa pada prinsipnya bantuan berasal dari uang masyarakat. Bukan dari seseorang maupun golongan tertentu. Untuk itu, ia berpesan, agar uang tersebut benar-benar sesuai sasaran. (Hms)

Sabtu, 13 Desember 2008

Kajari Purworejo Diserahterimakan

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Purworejo, Kamis (11/12/08) diserahterimakan. Dengan mengambil tempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo serah terima jabatan (sertijab) dilakukan dari pejabat lama Heriyanto Serumpun, SH kepada pejabat baru Erwin Desman, SH. Sebelumnya Erwin Desman, SH dilantik dan diambil sumpah jabatan oleh Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Jawa Tengah I Ketut Artana, SH.

Edwin Desman, SH sebelumnya adalah Kajari Sekayu Banyuasin, Sumatera Selatan. Sedangkan Kajari Purworejo sebelumnya di promosikan sebagai Asisten Pembinaan di Kajati Papua.

Dalam sambutannya Wakajati Jawa Tengah menegaskan pergantian pejabat adalah hal yang biasa dan lazim dilakukan guna kelangsungan organisasi. Juga disinggung tentang komitmen kejaksaan untuk menuntaskan berbagai kasus, khususnya perkara korupsi. Pejabat yang baru hendaknya mau mawas diri, dalam menegakkan hukum dengan azas praduga tak bersalah.

Disampaikan pula bahwa bagi pejabat yang baru juga harus memiliki integritas yang tinggi. Terlebih masyarakat mengharapkan pemberantasan korupsi secara nyata. “Oleh karenanya bagi pejabat yang baru harus bertindak menegakkan hukum secara adil, profesional dan transparan dalam kinerja,”harapnya.

Dalam acara itu juga dihadiri segenap pejabat teras Pemkab Purworejo dan pejabat di lingkungan Kejari Purworejo. Termasuk di dalamnya Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM. (Sus)

Operasi Gabungan Grebeg PSK di Kutoarjo


Petugas gabungan dari Polres Purworejo, Kodim 0708 Purworejo, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos), Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia Pekerja Seks komersial (PSK) di dua tempat, Kamis (11/12/08) lalu. Yakni di warung remang-remang Gunung Tugel dan warung remang-remang di depan Stasiun Kereta Api Kutoarjo.

Operasi tersebut digelar dalam rangka menciptakan ketertiban lingkungan di wilayah Kabupaten Purworejo. Operasi itu dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut dari banyaknya laporan masyarakat yang masuk baik ke polisi maupun instansi terkait lainnya. Menurut sumber yang dapat dipercaya, lokasi warung remang-remang Gunung Tugel dan warung remang-remang di depan Stasiun Kereta Api Kutoarjo memang sering dijadikan tempat mangkal serta transaksi PSK dengan para lelaki hidung belang. Transaksi tersebut hampir dilakukan setiap malamnya, dengan menyewa kamar Rp 10 ribu untuk tarif short time.

Dalam operasi ini hanya beberapa PSK dan lelaki hidung belang yang terjaring. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya kebocoran informasi sebelumnya. Seorang PSK dan seorang lelaki hidung belang tertangkap basah sedang berhubungan intim, keduanya ditemukan petugas dalam keadaan telanjang bulat. Untuk selanjutnya para PSK dan lelaki hidung belang tadi digelandang ke panti rehabilitasi untuk mendapatkan pembinaan. (Sum)

Selasa, 14 Oktober 2008

Live Talk Show Suara Irama Purworejo Bertujuan Membuka Kran-kran Informasi Tersumbat

Ternyata acara live talk show bersama publik di Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Suara Irama 88,5 FM Purworejo, mendapatkan rating tertinggi. Setiap acara yang diberi titel Hallo Purworejo itu digelar, pertanyaan yang masuk, baik melalui telepon maupun sms bisa mencapai 50 orang lebih. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala UPT RSPD Suara Irama Purworejo Endah Srigati (51), saat ditemui wartawan Buser Plus di kantornya, belum lama ini.


Lebih jauh Endah menjelaskan, kadang kala saking banyaknya pertanyaan yang masuk, sampai-sampai pihaknya agak kesulitan dalam membahasnya. Sebab waktu yang disediakan tidak mencukupi, padahal acara yang digelar setiap hari Senin malam itu, digeber cukup lama yakni 2 jam, mulai dari jam 20.00 WIB – 22.00 WIB. “Selain itu banyak juga pertanyaan yang masuk di luar tema yang kita bahas. Bukan berarti pertanyaan tesebut diabaikan, tetapi tetap kita respon dan dibahas oleh narasumber yang ada. Setiap Senin malam kita selalu menghadirkan narasumber Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM, dengan didampingi oleh pejabat teknis daerah sesuai tema yang dibahas,” kata Endah.


“Namun khusus untuk Senin Wage atau malam Selasa Kliwon, kita live dari Pendopo Rumah Dinas Bupati, menyiarkan acara Gendu-gendu Roso yang dilakukan oleh Bupati. Pada malam itu Bupati mengundhang semua pejabat teras di lingkungan Pemkab Purworejo untuk beramah tamah dan bowo roso membahas masalah yang sedang menjadi buah bibir, kalau di tingkat desa sering disebut selapanan,” ujarnya. “Kita baru menggelar acara live talk show dengan Bupati pada pagi harinya Selasa Kliwon. Acara live talk show ini frekuensinya ditambah mulai Bupati Puworejo dijabat oleh H Kelik Sumrahadi, SSos, MM. Kalau Bupati sebelumnya acara live talk show hanya digelar setiap Selasa Kliwon, atau selapanan sekali,” imbuhnya.


Lebih jauh Endah menjelaskan, bahwa di sini pihaknya tak hanya menyampaikan informasi searah kepada pendengarnya, namun lebih dari itu, yakni menjalankan fungsinya sebagai media penyambung antara masyarakat dengan pemerintah atau sebaliknya. Sehingga ada komunikasi dua arah demi kemajuan pembangunan Kabupaten Purworejo ke depan. “Dalam istilah kita membuka kran-kran informasi yang tersumbat. Paling tidak kritik, saran itu akan turut mempengaruhi atau mewarnai kebijakan Pemkab Purworejo yang diambil oleh para pejabat publiknya dalam menjalankan roda pemerintahan,” tukasnya.


Dalam perjalanan sejarah acara ini telah berjalan selama tiga tahun. Pertama kali acara itu kita beri nama Hallo Pak Kelik, namun karena banyak kritik dan saran dari berbagai pihak, lantas nama acaranya diganti dengan Hallo Purworejo. Selain itu radio yang kini telah berumur 39 taun tersebut juga membuka acara live talk show lainnya yang telah diprogram secara rutin setiap minggunya. Membahas mulai dari permasalahan kesehatan, pendidikan, bisnis maupun pelayanan publik. Acaranya bekerjasama dengan berbagai kalangan, baik instansi pemerintah, kalangan dunia usaha, BUMN/BUMD maupun pihak swasta.


Radio yang pernah dipancar luaskan melalui frekuensi 693 AM ini, untuk menuju ke radio publik juga memberikan kesempatan kepada semua pihak dan semua golongan yang akan menggunakan radionya sebagai media penyampai informasi. “Kami juga memberi kesempatan seluas-luasnya kepada semua pihak untuk turut mengisi acara di Radio Suara Irama. Sebab ini kan radio milik publik, jangan lantas terkesan hanya bisa digunakan oleh pemerintah daerah saja,” tutur Endah. Selain acara live talk show, Radio Suara Irama juga memiliki produk acara yang tak kalah tinggi ratingnya, yakni acara Detak Purworejo. Acara ini dikemas untuk menyampaikan berita-berita lokal Purworejo serta disiarkan dua kali sehari, pagi dan sore hari. Kini radio yang tengah berusaha keras meningkatkan statusnya sebagai radio publik ini, juga memprioritaskan siaran-siaran pandangan mata langsung dari tempat kejadian. Hal tersebut dilakukan untuk memuaskan para pendengar setianya di wilayah Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. (Yul)

Rabu, 24 September 2008

Bila Tak Berobat ke Dokter Gigi Didenda

Beberapa tahun yang lalu, pemerintah Belanda memberi sanksi berupa denda (straaf) kepada masyarakat yang tidak berobat gigi dalam jangka waktu setahun, karena pemerintah menganggap penyakit gigi dan mulut membebani keuangan negara dan memberi kontribusi kerugian ekonomi bagi negara. Dan menurut penelitian, angka absen tertinggi anak sekolah dan karyawan yang disebabkan sakit gigi adalah mereka kehilangan 4 hari kerja perbulan. Belum lagi penyakit sistemik yang terjadi akibat sakit gigi yang tidak diobati. Kebijakan tersebut perlahan-lahan mulai dihapus, karena pemerintah Belanda menganggap saat ini masyarakat sudah sadar untuk berobat ke dokter gigi.



Demikian, dikatakan Drg. Dhanni Gustiana, dokter gigi Puskesmas Seboro Krapyak-Kecamatan Banyu Urip yang baru saja menyelesaikan Post Graduate Course selama dua bulan mulai tanggal 4 Mei – 3 Juli 2008 ,di WHO Collaborating Centre di St Radboud University-Nijmegen, Belanda. Kesempatan tersebut diikuti oleh 11 negara (Indonesia, Belanda, Kamerun, Uganda, Irlandia, China, India, Nigeria, Dominika, Filipina dan Bolivia) dan beliau merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang lolos seleksi dan mendapat beasiswa. Program yang bertema Oral Health Care and Future Scenarios (New Concepts in Educations and Oral Care) memperkenalkan metode klinis dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan teknologi mutakhir namun dapat diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia.



Selanjutnya Drg. Dhanni menjelaskan, dari data yang ada pada WHO, terungkap bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari Negara-negara Afrika dan Amerika Selatan (peserta program) ternyata kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia merupakan yang terburuk. Hal ini terlihat dari data bahwa penyakit gigi dan mulut di Indonesia menempati prosentase terbesar, rendahnya kesadaran masyarakat yang ditandai dari jumlah kunjungan ke dokter gigi yang sangat rendah, serta dari jumlah karies (lubang gigi) yang mencapai 97.4 % pada anak-anak.



Keikutsertaannya dalam program ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Metode pembelajaran serta peralatan yang modern serta interaksinya dengan peserta dari Negara lain dapat menjadi bekal untuk mengaplikasikan ilmu di tanah air. Kebetulan pula makalah presentasi Indonesia yang berjudul The new perspective in preventive dentistry dianggap sebagai yang terbaik, sehingga mendapat kehormatan untuk dapat dimasukkan ke Extract Magazine yaitu majalah Universitas St Radboud. Makalah ilmiahnya pun menarik perhatian peserta serta staf pengajar di Universitas. “Insya Allah, metode ilmiah saya ini akan diujicobakan di Filipina, Uganda serta Belanda sendiri. Saya berharap dukungan pemerintah dan masyarakat”, tuturnya. (Sus)

OSIS SMA Negeri 6 Beri Bantuan Korban Kebakaran

WAJAH haru terpancar dari wajah Suwarti (43) dan puterinya Dewi Astuti (15), keluarga korban yang rumahnya ludes terbakar. Itu setelah para siswa dari OSIS SMA Negeri 6 Purworejo menjenguk dan memberikan dukungan kepada mereka, Kamis (21/8). Didampingi guru mereka Eny Ermaini SPd, mereka memberikan bantuan sebanyak 23 dus berisi pakaian pantas pakai, mie instan, gula, kopi, teh, dan beras 2,5 karung seberat 250 kg, serta sejumlah uang.


Bantuan tahap ketiga tersebut diberikan langsung oleh Ketua OSIS SMAN 6 Muhammad Mugnis Syakur kepada Dewi Astuti didampingi ibunya, di kediaman paman Dewi, Wagino Darmosuwito, di Kelurahan Sindurjan RT 03 RW 06 Purworejo. Saat ini, untuk sementara Dewi sekeluarga menumpang di rumah Wagino hingga menunggu rumahnya dibangun kembali.


"Saya merasa terharu dan bahagia atas bantuan yang mereka berikan. Semoga kebaikan mereka mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT," ujar Suwarti.


Sementara itu guru pendamping OSIS SMAN 6 Eny Ermaeni menyampaikan pesan kepala sekolahnya Drs Urip Raharjo MPd, agar Dewi tetap sekolah, belajar yang giat untuk mengejar cita-citanya. SMAN 6 tetap akan memberikan dukungan dan bantuan.


Dewi yang sempat trauma atas kejadian tersebut kini bisa tersenyum dan menceritakan pengalaman pahitnya. Awal terbakarnya rumahnya, waktu itu ia baru saja memasak sayur dan memasak air dengan menggunakan anglo dengan bahan bakar arang. Usai memasak, Dewi sempat mematikan api. Setelah itu ia pun tidur. Ia sempat mendengar suara klitik-klitik suara bara api.


"Mungkin ada percikan api membakar lincak bambu. Waktu itu belum ada api namun berupa bara," ujar Dewi. (Yun)

RSUD Saras Husada Ditarget Maju Tingkat Nasional

Rumah Sakit Unit Daerah (RSUD) Saras Husada hendaknya mempersiapkan diri mewakili Jawa Tengah dalam penilaian kinerja Unit Pelayanan Publik (UPP). Setidaknya dalam 2 tahun ke depan RSUD harus sudah betul-betul siap maju di tingkat nasional. Apalagi didukung dengan filosofi yang dikenal dengan pelayanan prima.


Target 2 tahun tersebut ditegaskan Asisten Deputi Meneg PAN Bidang Pelayanan Publik, Bambang Anom selaku ketua tim penilai kinerja UPP saat menilai dan meninjau langsung di RSUD Purworejo (25/7). Tim penilai yang terdiri 4 orang dari pusat dan 2 orang dari propinsi diterima Wakil Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain.


Bambang Anom merasa sangat yakin RSUD Purworejo akan menjadi yang terbaik dari unit-unit pelayanan yang lain. Berbekal manajemen pelayanan dan administrasi yang sudah ada, RSUD tinggal memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Kalau RSUD Purworejo betul-betul tekun, mungkin Purworejo akan menjadi percontohan di tingkat nasional. “Dua tahun kedepan kita bisa merubah Purworejo untuk apapun, kita siap membantu dan akan all out melebihi Ibu Ani Yudhoyono,” ujar Bambang dengan mantap.


Pelayanan publik yang sukses, menjadi prioritas pemerintah. Maka segala bentuk korupsi akan terus diberantas agar pelayanan publik bisa sukses untuk kepentingan masyarakat tanpa kecuali. Pelayanan yang didasari dengan pengabdian akan melahirkan pelayanan publik yang beriman. Bambang berharap agar RSUD selalu melakukan evaluasi dalam waktu 1 minggu, 1 bulan, dan 3 bulan. Dalam evaluasi harus disertai dokumen dan adminstrasi yang jelas.


Direktur RSUD Purworejo Drg Gustanul Arifin MKes dalam paparannya menjelaskan tujuan pelayanan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Diantaranya menyediakan alat kesehatan yang lengkap, biaya berobat yang terjangkau, dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang sedang antri obat atau masyarakat yang rawat jalan. ”Saya berharap agar karyawan RSUD menjadi yang terbaik dimanapun berada. Jadi tukang amplop jadilah tukang amplop yang baik, jadi apapun dalam pekerjaannya jadilah yang terbaik,”harapnya.


Disamping mengutamakan pelayanan yang baik, Gustanul juga mempunyai program agar rumah sakit bersih dari kucing. Karena kucing yang kotor menyebarkan virus tokso, penyebar TBC dan sebagainya. Sehingga setiap 3 bulan sekali dilakukan razia kucing. Bagi karyawan rumah sakit yang berhasil menangkap kucing dan membawa keluar dari lokasi rumah sakit, akan mendapat honor 10.000 rupiah. Sebelumnya jika menangkap 1 kucing hanya diberi 3000 rupiah, lalu naik 7000 rupiah, dan sekarang menjadi 10.000 rupiah. (Pras)

Slamet Tergolek Tak Berdaya, Butuh Bantuan

Slamet Waluyo yang masih berusia 4 tahun, hanya bisa berbaring. Dia tergolek tak berdaya ditempat tidur yang beralaskan tikar. Slamet demikian nama panggilannya, tak pernah bisa bergembira dan bermain seperti anak-anak pada umumnya.

Anak yang lahir dari pasangan Karsimin (47) dan Ponidah (40) ini, menderita sejak umur 27 hari. Dalam usia yang belum genap sebulan itu, Slamet mengalami kejang-kejang sampai tidak bisa tumbuh normal. Sebab badannya lemas, nafasnya susah seperti banyak lendir, tidak bisa berbicara, dan pertumbuhan badannya sangat kurang. Makanan kesehariannya yang bisa ditelan hanya bubur nasi dan minum. Untuk makan dan minum pun harus ekstra hati-hati, karena mudah tersedak.


Beberapa kali Slamet yang tinggal di rumah sederhana di RT 2 RW I Desa Kunirejo Kulon Kecamatan Butuh, diperiksakan di RSUD Purworejo yang kemudian dirujuk ke RS Sarjito Jogja. “Sanjange doktere Sarjito, enten saraf otak ingkang soyo mengecil. Lajeng disaranke supados operasi,” ujar Ponidah yang didampingi Karsimin.


Tapi sampai usia 4 tahun ini, operasi yang disarankan tidak pernah terealisasi, karena terbentur biaya. Bahkan ketika opname di RS Sarjito, Slamet dibawa pulang paksa, meski Rumah Sakit belum megijinkan pulang. “Saking bangete pengin anak kulo mantun, namung betah biaya ingkang mboten sekedik. Kulo tiyang dusun mboten mampu, namung buruh tani penghasilan pas-pasan. Kulo namun pasrah mugi-mugi anak kulo saget mantun, wonten ingkang kerso mbantu mantunke,” harap Ponidah.


Kini Slamet hanya diperiksakan di Puskesmas yang tidak jauh dari rumahnya. Kejang yang diderita Slamet hingga saat ini masih rutin disandangnya. Munculnya kejang juga tidak tentu, kadang dalam sehari semalam bisa 3 sampai 4 kali. Jika kejang itu muncul, dengan segera diminumi obat dari Puskesmas, sehingga bisa sedikit mengurangi kesakitan Slamet. Setiap 15 hari, harus membeli obat yang diminum 3 kali sehari. Kartu JPS yang dimiliki tidak banyak membantu karena sebagian obat harus dibayar sendiri.


Slamet memimpikan tumbuh normal seperti teman sebayanya, bisa bercanda, bermain, dan bersekolah. Meski tidak bisa berbicara tetapi impian itu sangat jelas terlihat ketika ada yang datang menengoknya. Termasuk ketika tim anjangsana Kabupaten Purworejo memberikan bantuan.


Dari matanya Slamet ingin bercanda, dari gerak bibirnya dia ingin berbicara., dan dari gerak tangannya yang lemah dia ingin melakukan sesuatu. Tetapi semua itu belum pernah bisa terwujud karena ketiadaan dana. (Sus)

Sabtu, 20 September 2008

Setelah 60 Tahun Diusulkan, Jembatan Sembir Baru Terwujud

Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, S.Sos, MM, melakukan sujud syukur di tengah Jembatan sembir, (17/8) lalu. Hal tersebut dilakukannya usai meresmikan proyek pembangunan Jembatan Sembir senilai Rp 7 milliar. Jembatan yang terletak di atas Sungai Bogowonto itu, menghubungkan antara Desa Bugel (Kecamatan Bagelen) dengan Desa Purwodadi (Kecamatan Purwodadi), Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Hal tersebut dilakukannya, mengingat perjuangan masyarakat untuk mewujudkannya sudah sangat panjang dan melelahkan. Kurang lebih 60 tahun lalu pengusulan pembangunan jembatan ini diajukan, namun baru dapat terwujud di masa pemerintahannya.

Kepala Dinas Kimprasda Kabupaten Purworejo, Ir. Harijadi mengatakan, pembangunan Jembatan Sembir dilakukan dalam dua tahap, selama dua tahun. Pada tahap pertama dilakukan pembangunan bagian bawah jembatan, yang dikerjakan pada tahun 2007 lalu, menggunakan biaya dari APBD II sebesar Rp 2,6 milliar. Sedangkan pembangunan bagian atas jembatan baru dapat dilakukan tahun 2008 ini, melalui APBD II Tahun 2008 sebesar Rp 4,4 milliar.


“Jembatan ini memiliki panjang 87 meter dengan lebar 7 meter. Selain itu jalan penghubung mulai dari perempatan Purwodadi-Pasar Krendetan (Jalan Raya Letnan Kemis-red) kini kondisinya sudah mulus, dengan aspal HRS,” kata Harijadi.


Dengan dibangunnya Jembatan Sembir maka diharapkan ke depan akan semakin meningkatkan roda perekonomian kedua wilayah. Disamping itu juga dapat menjadi jalur alternatif Bagelen-Purwodadi-Ngombol-Grabag-Kutoarjo. Jembatan ini juga akan menjadi pintu gerbang dari arah barat, terkait dengan Kecamatan Bagelen dalam waktu dekat ini akan dicanangkan sebagai Kecamatan Agropolitan.


Banyak orang yang menginginkan pembangunan Jembatan Sembir, terbukti tak sedikit orang yang melepaskan nadzar pada saat peresmian jembatan dilakukan. Ada yang berkeinginan bersepeda onthel dari Kutoarjo dan mengambil finish di Jembatan Sembir. Ada lagi yang ingin membagi-bagikan dagangan nasi peneknya pada peresmian itu. Kemudian seorang masyarakat asal desa setempat juga melakukan ritual unik, yakni dengan jalan merangkak dan berkalungkan ketupat menyusuri panjangnya jembatan hanya untuk sekedar melepaskan nadzar. Kemudian masyarakat juga menyumbangkan pertunjukan kesenian, untuk menghibur masyarakat setempat. Maka usai peresmian digelar Tari Tradisional Dolalak dari grup Dolalak Putri Puspasari (Desa Bugel, Kecamatan Bagelen). Malamnya juga digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan menampilkan dalang lokal Ki Rusmadi, dengan mengambil lakon Rama Tambak.


Belanda Tak Mampu Wujudkan Jembatan Sembir


Menurut salah satu tokoh masyarakat Desa Bugel, Suharmaji (54), pihak yang pertama kali merencanakan pembangunan Jembatan Sembir adalah Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1948, sebelum Perang Kemerdekaan I pecah di Pulau Jawa. Adapun alasan utama dibangunnya Jembatan Sembir pada masa itu, tak luput dari tipu muslihat, untuk mempermudah Belanda masuk ke wilayah RI. Suharmaji mengatakan, waktu itu jembatan ngandul (jembatan penghubung jalur utama Purworejo-Yogyakarta sekarang-red), belum dibangun. Sehingga jalur utama Purworejo-Yogyakarta masih harus melingkar lebih jauh melalui Cangkrep. “Belanda dengan dalih pertahanan keamanan perbatasan bersama dan ekonomi berencana membangun Jembatan Sembir. Mengingat waktu itu Sungai Bogowonto menjadi garis batas antara TNI (di sebelah Timur Sungai Bogowonto/Kecamatan Bagelen sekarang-red) dan Belanda (di sebelah Barat Sungai Bogowonto/Kecamatan Purwodadi-red),” ujarnya.


Namun ketika itu pecah Perang Kemerdekaan I, yang menyebabkan rencana pembangunan Jembatan Sembir terbengkalai. Padahal menurut Suharmaji, beberapa material bangunan telah ditumpuk di sana. Karena tak terurus, akhirnya material tadi hilang dengan sendirinya dan rencana pembangunan Jembatan Sembir-pun gagal total. Bermula dari sinilah, membuat masyarakat terus berupaya untuk membangun Jembatan Sembir. Namun karena keterbatasan dana, upaya tersebut tak kunjung terlaksana. Barulah pada tahun 1950 aspirasi masyarakat tadi direspon oleh pemerintah daerah. Pemerintah akhirnya membangun tempat tersebut sebagai tempat penyeberangan, dengan menggunakan perahu.


Suharmaji lebih jauh bercerita, orang yang mengoperasikan perahu tadi diangkat menjadi PNS. Mereka diantaranya bernama Parjono, Toha Jiwo Sarjono, Abu Sujak dan Suharjo. Barulah pada tahun 1996 pengelolaannya diserahkan kepada desa setempat. Pernah juga ada investor dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang membangun jembatan kecil di sana dan dijuluki sebagai jembatan komersial. Pengelola jembatan tersebut diperbolehkan menarik uang kepada orang yang melewatinya dan setiap bulannya harus menyerahkan bagi hasilnya kepada desa sebesar Rp 100 ribu. Namun jembatan komersial tadi tidak bertahan lama, kurang lebih hanya 2 bulan, karena kontruksi bangunannya kurang kuat, sehingga mudah hanyut terbawa arus Sungai Bogowonto yang terkenal sangat deras itu.


Tuntutan masyarakat dalam mengusulkan pembangunan Jembatan Sembir tak hanya berhenti sampai di sini. Dengan tanpa mengenal lelah mereka terus berupaya untuk mewujudkannya. Bahkan beberapa tokoh masyarakat Desa Bugel beserta kepala desanya pernah menyampaikan secara langsung proposal pembangunan Jembatan Sembir ke Departemen PU pusat Jakarta. “Dahulu memang pernah dijanjikan oleh Bupati semasa dijabat oleh Drs. H Goernito, namun belum terealisasi karena masa jabatannya sudah berakhir. Pada masa pemerintahan H Marsaid, SH, MSi, pembangunan Jembatan Sembir dihapuskan dari draf skala prioritas. Namun di masa akhir jabatan Marsaid pernah menjanjikan akan membangun jembatan gantung di sana,” ujarnya. “Barulah pada masa pemerintahan H Kelik Sumrahadi, S.Sos, MM, Jembatan Sembir dapat terwujud. Saya menilai ini adalah karya besar dan monumental yang tak akan pernah dilupakan di masa pemerintahan siapa Jembatan Sembir itu dibangun,” imbuhnya. (Yul)

Selasa, 02 September 2008

6 Pejabat di Lingkungan Polres Purworejo Dimutasi

Usai memimpin pemusnahan miras, mengambil tempat di halaman Mapolres Purworejo, Kapolres Purworejo AKBP Drs. Imran Yunus, MH menjadi inspektur upacara serah terima jabatan (sertijab) pejabat di jajaran Polres Purworejo, Sabtu (30/8). Ada 6 pejabat yang di mutasikan, yakni meliputi Kepala Bagian (Kabag) OPS, Kapolsek Purwodadi, Kapolsek Loano, Kapolsek Kaligesing, Kapolsek Bayan dan Kapolsek Grabag.

Kabag OPS lama Kompol Muhammad Fahrudin, SH diserah terimakan kepada pejabat baru Kompol Edi Subroto, SH. Kemudian Kapolsek Purwodadi dari pejabat lama AKP Kitfirul Aziz diserah terimakan kepada pejabat baru AKP Yudi Ruslan. Sementara itu untuk Kapolsek Loano dari pejabat lama AKP Yudi Ruslan diserah terimakan kepada pejabat baru AKP Kitfirul Aziz. Kapolsek Kaligesing sekarang dijabat oleh AKP Imam Rochadi, menggantikan pejabat lama AKP Hartono, yang kini menjabat sebagai Kapolsek Bayan. Terakhir AKP Eko Sukirno menempati jabatan baru sebagai Kapolsek Grabag, sedangkan pejabat lama AKP Baryono ditarik ke Polwil Kedu.


Kapolres Purworejo AKBP Drs. Imran Yunus, MH dalam sambutannya mengatakan, mutasi di jajaran Polri adalah sesuatu hal yang biasa terjadi. Itu merupakan panggilan tugas yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. “Hal ini jangan dibesar-besarkan, mutasi di jajaran Polri itu sudah hal yang biasa,” ujar Imran. (Eko Mulyanto)

Polres Purworejo Musnahkan 3.028 Botol Miras

Sebanyak 3.028 botol minuman keras (miras) dari berbagai merk, 2 derigen tuak oplosan masing-masing isi 30 liter, Sabtu (30/8) dimusnahkan oleh jajaran Polres Purworejo. Pemusnahan dengan mengambil tempat di Jl. Proklamasi Purworejo (sebelah selatan Alun-alun Besar Purworejo-red) itu, merupakan hasil Operasi Pekat dan Cipta Kondisi 2008. Operasi ini rutin digelar oleh jajaran Polres Purworejo selama 8 bulan terakhir, yakni mulai bulan Januari-Agustus 2008.

Dalam sambutannya, Kapolres Purworejo Drs. Imran Yunus, MH mengatakan, tak ada ampun untuk segala macam penyakit masyarakat, termasuk di dalamnya miras. “Polri khususnya Polres Purworejo tidak akan berhenti sampai di sini. Ke depan akan terus melaksanakan razia, baik pada penjual, maupun pengguna miras. Dengan terus menerus dilakukan operasi diharapkan masyarakat akan sadar betapa bahayanya penggunaan mirasitu. Tak hanya membahayakan kesehatan penggunanya saja, namun juga membahayakan bagi ketentraman lingkungannya,” papar Imran.


Imran lebih jauh mengatakan, dalam operasi tadi sejumlah 42 orang telah diajukan ke meja hijau dengan amar putusan No. 41-91/Pit. c/2008 Pengadilan Negeri (PN) Purworejo. Adapun denda yang dikenakan bagi terpidana sebanyak itu sebesar Rp 18.700.000,00 dan biaya perkara sebesar Rp 116 ribu.


Secara rinci miras yang dimusnahkan meliputi Anggur 5000 Gemini 498 botol, Anggur Merah 647 botol, Anggur Kolesom 624 botol, Anggur Putih 401 botol, New Port 336 botol, Anggur Beras Kencur 252 botol, Anggur Buah Rema 48 botol, Anggur Barbara 48 botol, Anggur Ketan Hitam 48 botol, Topi Miring 36 botol, Arak Putih 12 botol, Mension Hause 66 botol, Ice Land 10 botol, oplosan 2 botol dan tuak oplosan 2 derigen masing-masing isi 30 liter.


Turut menyaksikan pemusnahan miras tersebut, Wakil Bupati Purworejo Drs. H Mahsun Zain, Ketua DPRD Purworejo Angko Setiyarso Widodo, Muspida, Ulama, MUI, LSM dan unsur masyarakat. (Eko Mulyanto)

20 Pelajar Badung Terjaring Razia

Untuk kedua kalinya di tahun ini, jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo bekerjasama dengan pihak Kepolisian, Kesbanglinmas dan Satuan Polisi Pamong Praja menggelar razia pelajar, Senin (25/8) lalu. Adapun tempat-tempat yang dirazia petugas gabungan meliputi warung internet, pasar, tempat plays station dan tempat mangkal pelajar. Razia ini dilaksanakan pada saat jam pelajaran sekolah sedang berlangsung, tak ada ampunan bagi pelajar yang terjaring dan tidak membawa surat ijin dari sekolah mereka ditangkap dan dibawa menggunakan truk milik Polri.


Sebanyak 20 pelajar terjaring dalam razia ini. banyak juga pelajar yang melarikan diri saat petugas mendekati mereka, namun berkat kesigapan aparat banyak diantaranya yang kembali tertangkap. Dari ke-20 pelajar tadi, 6 diantaranya terjaring di Kota Purworejo dan sisanya 14 siswa terkena razia di Kota Kutoarjo. Parahnya 8 pelajar merupakan perempuan, sedangkan 12 pelajar laki-laki. Sebagian besar dari mereka adalah siswa SMU dan SMK. Untuk selanjutnya mereka dibawa dengan truk milik Polri ke kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo untuk didata dan diberi pengarahan sebelum diserahkan ke pihak sekolah.


Menurut Kasi Pembinaan Pemuda dan Olah Raga (Binmudora) Dinas Pendidikan Kabupaten Purworejo, Ery Prayitno, hal itu dilakukan sebagai shock terapy bagi para pelajar yang melanggar peraturan jam pelajaran, namun razia ini tetap mengacu pada jenis razia yang bersifat edukatif. "Pelajar yang terjaring ini akan kami serahkan kepada sekolah masing-masing agar mereka dibina lebih lanjut," kata Ery. “Paling tidak hal ini akan menjadi perhatian bagi pelajar lainnya, yang nantinya akan menimbulkan efek jera,” imbuh Ery. (Yan)

Setelah 45 Tahun Jembatan Sembir Baru Terwujud

Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, S.Sos, MM, melakukan sujud syukur di tengah Jembatan sembir, (17/8) lalu. Hal tersebut dilakukannya usai meresmikan proyek pembangunan Jembatan Sembir senilai Rp 7 milliar. Jembatan yang terletak di atas Sungai Bogowonto itu, menghubungkan Desa Bugel (Kecamatan Bagelen) dengan Desa Purwodadi (Kecamatan Purwodadi), Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Mengingat perjuangan masyarakat untuk mewujudkannya cukup panjang dan melelahkan. Kurang lebih 45 tahun pengusulan pembangunan jembatan ini sudah diajukan, namun baru terwujud di masa pemerintahan Kelik.

Kepala Dinas Kimprasda Kabupaten Purworejo, Ir. Harijadi mengatakan, pembangunan Jembatan Sembir dilakukan dalam dua tahap, selama dua tahun. Pertama dilakukan pembangunan bagian bawah jembatan dikerjakan pada tahun 2007 lalu menggunakan biaya dari APBD II sebesar Rp 2,6 milliar. Sedangkan pembangunan bagian atas jembatan dilakukan tahun ini melalui APBD II Tahun 2008 sebesar Rp 4,4 milliar.


“Jembatan ini memiliki panjang 87 meter dengan lebar 7 meter. Selain itu jalan penghubung mulai dari perempatan Purwodadi-Pasar Krendetan (Jalan Raya Letnan Kemis-red) kini kondisinya telah mulus, dengan aspal HRS,” kata Harijadi.


Dengan dibangunnya Jembatan Sembir maka diharapkan ke depan akan semakin meningkatkan roda perekonomian kedua wilayah. Disamping itu juga dapat menjadi jalur alternatif Bagelen-Purwodadi-Ngombol-Grabag-Kutoarjo. Jembatan ini juga akan menjadi pintu gerbang dari arah barat, sehubungan Kecamatan Bagelen dalam waktu dekat ini akan dicanangkan sebagai Kecamatan Agropolitan.


Banyak orang yang menginginkan pembangunan Jembatan Sembir, terbukti tak seikit orang yang melepaskan nadar pada saat peresmian jembatan dilakukan. Ada yang berkeinginan bersepeda onthel dari Kutoarjo dan mengambil finish di Jembatan Sembir. Ada lagi yang ingin membagi-bagikan dagangannya berupa nasi penek pada peresmian itu. Kemudian masyarakat juga menyumbangkan pertunjukan kesenian, untuk menghibur masyarakat setempat. Maka usai peresmian digelar Tari Tradisional Dolalak dari grup Dolalak Putri Puspasari (Desa Bugel, Kecamatan Bagelen). Malamnya juga digelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk dengan menampilkan dalang lokal Ki Rusmadi, dengan mengambil lakon Rama Tambak. (Mul)

Sabtu, 30 Agustus 2008

Setelah Lama Kucing-kucingan Dengan Wartawan, Panitia Bagus-Roro Akhirnya Angkat Bicara

Panitia Pemilihan Bagus-Roro Kabupaten Purworejo 2008 akhirnya mau bicara. Atas nama seluruh panitia, Ketua I Drs. Sumarno di hadapan wartawan menyatakan diri bertanggung jawab atas insiden kecelakaan jatuhnya seorang penonton dari tribun, pada Malam Grand Final Bagus-Roro, Sabtu (9/8) lalu. Sebagai bentuk rasa tanggung jawab tersebut, biaya pengobatan korban selama dirawat di RSUD Saras Husada Purworejo ditanggung oleh pihak panitia penyelenggara.


“Panitia menanggung biaya perawatan korban. Alhamdulillah masalah ini juga bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” kata Sumarno. “Korban selama menjalani perawatan, ditempatkan di Bangsal Pavilliun RSUD Saras Husada Purworejo, selama empat hari. Kini kondisinya sudah berangsur-angsur sembuh, sementara itu pihak keluarga tidak menuntut apapun dari panitia penyelenggara,” imbuhnya.


Total biaya selama korban dirawat di RSUD Saras Husada Purworejo adalah sebesar Rp 2.648.000,00. Namun pihak panitia tidak menanggung biaya keseluruhan, hanya mengeluarkan bantuan dana sebesar Rp 1,5 juta. Hal tersebut dikarenakan terkurangi oleh Askes (orang tua korban ikut Askes-red) sebesar Rp 700 ribu dan asuransi siswa sebesar Rp 400 ribu. “Orang tua korban hanya mengeluarkan uang cash sebesar Rp 48 ribu,” ujar Sumarno.


Namun demikian insiden tersebut bisa menjadikan bahan evaluasi penyelenggaraan event serupa di masa mendatang. Paling tidak berani mengadakan acara juga harus menjamin keselamatan para penontonnya. Bahkan beberapa pihak menyarankan adanya asuransi kecelakaan bagi para penontonnya. Di samping itu kondisi GOR WR Soepratman yang kurang memungkinkan untuk diadakan event dalam waktu dekat ini, menjadikan rekomendasi bagi pihak-pihak yang telah berencana menggelar event di tempat trsebut. (Eko Mulyanto)

Peringati HUT Kemerdekaan Dengan Lomba Gropyok Tikus

Kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-63, Desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah tergolong unik dan langka. Mereka menggelar sebuah kegiatan yang jarang dilakukan di daerah lain. Kegiatan tersebut berupa lomba gropyok tikus. Spontan saja kegiatan tersebut menyedot perhatian banyak pihak termasuk di dalamnya para kuli tinta. Mereka rela berlarian di pematang sawah dan bongkahan tanah kering mengikuti kemana warga mengejar larinya si tikus.


Lomba itu digelar, Sabtu (16/8) lalu, diikuti oleh 9 grup dengan masing-masing grup beranggotakan 6 orang. Lomba tersebut diberangkatkan oleh Kepala Desa Bubutan Ir. Agus Wahyono pukul 08.00 WIB. Sembilan grup pemburu tikus tadi hanya diberi waktu 3 jam untuk mengumpulkan hasil buruannya kepada panitia. Dan lomba ditutup pada pukul 11.00 WIB, bagi grup yang memperoleh tikus terbanyak akan dinobatkan menjadi sang juara.


Adapun lokasi sawah yang menjadi tempat perburuan itu hanya dibatasi sawah di wilayah Desa Bubutan, yang luasnya mencapai 70 hektar. Menurut penuturan Agus, disamping langka dan unik, lomba ini dipilih oleh panitia karena akhir-akhir ini banyak keluhan yang disampaikan oleh warganya terhadap menggilanya hama tikus di sawah mereka. Bahkan hasil panen kemarin (akhir bulan Juli 2008-red) rata-rata petani hanya bisa membawa pulang hasil panenan 70%-nya saja. Sedangkan 30% sisanya habis disikat oleh hama tikus. “Ternyata hama tikus tidak hanya memakan padi milik petani, namun ketika kini di tanami palawija, juga tak bisa terhindar dari serangan tikus,” tuturnya.


Padahal menurut Agus, saat ini dari luas keseluruhan 70 hektar tadi, 40 hektarnya kini ditanami palawija. Seperti cabai, bawang merah, jagung, kacang tanah, melon dan lain sebagainya. “Selain buahnya, tikus-tikus tadi juga memakan batang muda dari tanaman palawija. Tak heran jika aksi membabibuta tersebut membuat sejumlah petani geram,” ujar Agus.


Wajar jika warga masyarakat yang ikut dalam perlombaan ini memiliki semangat 45 untuk memburu tikus. “Saya menyambut baik diadakannya acara ini, sebab selain ingin memperoleh hadiah, sekaligus juga ikut membasmi hama yang selama ini mengganggu tanaman kami,” ujar salah seorang peserta. Sepertinya genderang perang terhadap tikus sudah ditabuh, terbukti dalam waktu 3 jam yang disediakan oleh panitia penyelenggara, peserta mampu memperoleh 654 ekor.


Akhirnya juara pertama lomba gropyok tikus dimenangkan oleh grup Sudono, dengan perolehan 152 ekor. Juara kedua diraih oleh grup Sukiman, dengan perolehan 135 ekor. Sedangkan Grup Junaryo yang memperoleh 118 ekor menempati urutan ketiga. (Sus)