Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro

Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro
Sebelum puncak kegiatan Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa Tasyakuran dan Peresmian Pressroom, terlebih dahulu para kulitinta yang bekerja di wilayah Kabupaten Purworejo bersama Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM menebarkan benih ikan Nila sebanyak 5.000 ekor di Bendung Boro, Sabtu (28/3).

Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan

Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan
Rangkaian kegiatan puncak Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa penanaman 300 pohon langka di Kawasan Potensi Wisata Gegermenjangan, Sabtu (28/3).

Selasa, 16 Desember 2008

Pemkab Purworejo Desak Pemerintah Pusat Luruskan Tempat dan Tanggal Lahir Pahlawan Nasional


Pemkab Purworejo akan berupaya mendesak pemerintah pusat, melalui kementrian Sosial untuk meluruskan penulisan, tempat dan tangal lahir, pahlawan nasional, komponis, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya “, WR Soepratman, sebagaimana tertuang dalam penetapan Pengadilan Negeri Purworejo.

Penegasan tersebut disampaikan Assisten Sekda Bidang Administrasi dan Umum, drh Abdulrahaman.di sela-sela rapat koordinasi, Sabtu (29/11), yang membahas rencana tindak lanjut dari penetapan tersebut. Dikemukakan bahwa untuk keperluan tersebut pihaknya akan membentuk tim, yang akan dikukuhkan melalui surat keputusan bupati. Tim ini nantinya setelah berkoordinasi dengan Pemprop Jateng, akan melanjutkan ke Badan Pembina Pahlawan Nasional pada Kementrian Sosial di Jakarta.

Ia mengakui, sebetulnya niat tersebut sudah ada sejak tahun lalu. Setelah ada penetapan dari PN Purworejo nomor 04/Pdt/P/2007/PN PWR, tanggal 29 maret 2007, sampai saat ini belum ada tindak lanjut. “Sebetulnya tahun lalu sudah ada rencana, namum karena ada sesuatu hal, sehingga belum terlaksana. Baru saat ini rencana itu akan dilaksanakan, kendati waktunya sudah mempet” katanya.

Menurutnya, tim yang akan dibentuk beranggotakan para pimpinan satker terkait, ditambah para budayawan. Tim ini sebelum ke Jakarta akan berpamitan dengan keluarga WR Soepratman yang berada di Desa Somongari. Kemudian juga akan menghubungi keluarga yang berada di Jakarta dan kota lainnya.

Tim ini meminta kepada pempus untuk segera meluruskan dan menyosialisakan fakta sejarah sebagaimana penetapan PN Purworejo. Dimana dalam penetapan tersebut tertuang bahwa WR Soepratman lahir pada hari Senin Wage, tanggal 19 Maret 1903, di Dukuh Trembelang Desa Somongari Kecamatan Kaligesing Kabupaten Purworejo. Sebab selama ini terdapat versi lain tentang tanggal dan tempat lahir WR Soepratman.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan pemprop, surat permohonan disampaikan kepada Gubernur Jawa Tengah. Nantinya Gubernur Jateng yag akan melayangkan surat permintaan kepada Menteri Sosial di Jakarta. Namun demikian, untuk memperlancar usulan dari gubernur, pihak pemkab akan melakukan koordinasi ke Depsos.(Sus)

Minggu, 14 Desember 2008

Jangan Mudah Percaya Pada Berita Kabar Burung Yang Sarat Kepentingan


Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia diperingati secara sederhana oleh Pemkab Purworejo, Selasa (9/12/08). Upacara peringatan dilakukan di halaman Kantor Sekretariat Daerah (Setda) Purworejo diikuti oleh seluruh staf di lingkungan Setda Purworejo dan pimpinan Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) yang ada. Dengan inspektur upacara Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM.

Dalam sambutannya, Bupati menyampaikan dukungannya terhadap upaya pemberantasan korupsi di negeri tercinta ini. Bahkan ia menandaskan agar pemberantasan korupsi tersebut tidak bersifat tanggung-tanggung, melainkan harus dibasmi hingga ke akar-akarnya.

Namun disisi lain, lanjut Bupati, dalam upaya pemberantasan tersebut kita harus menghormati azas praduga tak bersalah. Menurutnya, hal ini yang menjadi kendala, karena aparat hukumlah yang mengetahui kesalahan-kesalahan yang dimungkinkan terjadi. Sedangkan berita yang tersebar di masyarakat, belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Karena berita yang tersebar di masyarakat tentunya sudah dicampuri dengan kepentingan-kepentingan tertentu.

Pada kesempatan tersebut bupati meyerahkan secara simbolis, bantuan stimulan pembangunan kepada desa. Bantuan senilai Rp 188.500.000,00 itu bersumber dari APBD Kabupaten Purworejo tahun 2008. Bantuan diperuntukkan bagi 43 lokasi. Besarnya bantuan bervariasi, tergantung kebutuhan yang diajukan panitia dan hasil verikasi tim yang dibentuk pemkab.

Terkait bantuan tersebut, Bupati menyatakan bahwa pada prinsipnya bantuan berasal dari uang masyarakat. Bukan dari seseorang maupun golongan tertentu. Untuk itu, ia berpesan, agar uang tersebut benar-benar sesuai sasaran. (Hms)

Sabtu, 13 Desember 2008

Kajari Purworejo Diserahterimakan

Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Purworejo, Kamis (11/12/08) diserahterimakan. Dengan mengambil tempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo serah terima jabatan (sertijab) dilakukan dari pejabat lama Heriyanto Serumpun, SH kepada pejabat baru Erwin Desman, SH. Sebelumnya Erwin Desman, SH dilantik dan diambil sumpah jabatan oleh Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Wakajati) Jawa Tengah I Ketut Artana, SH.

Edwin Desman, SH sebelumnya adalah Kajari Sekayu Banyuasin, Sumatera Selatan. Sedangkan Kajari Purworejo sebelumnya di promosikan sebagai Asisten Pembinaan di Kajati Papua.

Dalam sambutannya Wakajati Jawa Tengah menegaskan pergantian pejabat adalah hal yang biasa dan lazim dilakukan guna kelangsungan organisasi. Juga disinggung tentang komitmen kejaksaan untuk menuntaskan berbagai kasus, khususnya perkara korupsi. Pejabat yang baru hendaknya mau mawas diri, dalam menegakkan hukum dengan azas praduga tak bersalah.

Disampaikan pula bahwa bagi pejabat yang baru juga harus memiliki integritas yang tinggi. Terlebih masyarakat mengharapkan pemberantasan korupsi secara nyata. “Oleh karenanya bagi pejabat yang baru harus bertindak menegakkan hukum secara adil, profesional dan transparan dalam kinerja,”harapnya.

Dalam acara itu juga dihadiri segenap pejabat teras Pemkab Purworejo dan pejabat di lingkungan Kejari Purworejo. Termasuk di dalamnya Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM. (Sus)

Operasi Gabungan Grebeg PSK di Kutoarjo


Petugas gabungan dari Polres Purworejo, Kodim 0708 Purworejo, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos), Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia Pekerja Seks komersial (PSK) di dua tempat, Kamis (11/12/08) lalu. Yakni di warung remang-remang Gunung Tugel dan warung remang-remang di depan Stasiun Kereta Api Kutoarjo.

Operasi tersebut digelar dalam rangka menciptakan ketertiban lingkungan di wilayah Kabupaten Purworejo. Operasi itu dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut dari banyaknya laporan masyarakat yang masuk baik ke polisi maupun instansi terkait lainnya. Menurut sumber yang dapat dipercaya, lokasi warung remang-remang Gunung Tugel dan warung remang-remang di depan Stasiun Kereta Api Kutoarjo memang sering dijadikan tempat mangkal serta transaksi PSK dengan para lelaki hidung belang. Transaksi tersebut hampir dilakukan setiap malamnya, dengan menyewa kamar Rp 10 ribu untuk tarif short time.

Dalam operasi ini hanya beberapa PSK dan lelaki hidung belang yang terjaring. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya kebocoran informasi sebelumnya. Seorang PSK dan seorang lelaki hidung belang tertangkap basah sedang berhubungan intim, keduanya ditemukan petugas dalam keadaan telanjang bulat. Untuk selanjutnya para PSK dan lelaki hidung belang tadi digelandang ke panti rehabilitasi untuk mendapatkan pembinaan. (Sum)

Selasa, 14 Oktober 2008

Live Talk Show Suara Irama Purworejo Bertujuan Membuka Kran-kran Informasi Tersumbat

Ternyata acara live talk show bersama publik di Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Suara Irama 88,5 FM Purworejo, mendapatkan rating tertinggi. Setiap acara yang diberi titel Hallo Purworejo itu digelar, pertanyaan yang masuk, baik melalui telepon maupun sms bisa mencapai 50 orang lebih. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala UPT RSPD Suara Irama Purworejo Endah Srigati (51), saat ditemui wartawan Buser Plus di kantornya, belum lama ini.


Lebih jauh Endah menjelaskan, kadang kala saking banyaknya pertanyaan yang masuk, sampai-sampai pihaknya agak kesulitan dalam membahasnya. Sebab waktu yang disediakan tidak mencukupi, padahal acara yang digelar setiap hari Senin malam itu, digeber cukup lama yakni 2 jam, mulai dari jam 20.00 WIB – 22.00 WIB. “Selain itu banyak juga pertanyaan yang masuk di luar tema yang kita bahas. Bukan berarti pertanyaan tesebut diabaikan, tetapi tetap kita respon dan dibahas oleh narasumber yang ada. Setiap Senin malam kita selalu menghadirkan narasumber Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM, dengan didampingi oleh pejabat teknis daerah sesuai tema yang dibahas,” kata Endah.


“Namun khusus untuk Senin Wage atau malam Selasa Kliwon, kita live dari Pendopo Rumah Dinas Bupati, menyiarkan acara Gendu-gendu Roso yang dilakukan oleh Bupati. Pada malam itu Bupati mengundhang semua pejabat teras di lingkungan Pemkab Purworejo untuk beramah tamah dan bowo roso membahas masalah yang sedang menjadi buah bibir, kalau di tingkat desa sering disebut selapanan,” ujarnya. “Kita baru menggelar acara live talk show dengan Bupati pada pagi harinya Selasa Kliwon. Acara live talk show ini frekuensinya ditambah mulai Bupati Puworejo dijabat oleh H Kelik Sumrahadi, SSos, MM. Kalau Bupati sebelumnya acara live talk show hanya digelar setiap Selasa Kliwon, atau selapanan sekali,” imbuhnya.


Lebih jauh Endah menjelaskan, bahwa di sini pihaknya tak hanya menyampaikan informasi searah kepada pendengarnya, namun lebih dari itu, yakni menjalankan fungsinya sebagai media penyambung antara masyarakat dengan pemerintah atau sebaliknya. Sehingga ada komunikasi dua arah demi kemajuan pembangunan Kabupaten Purworejo ke depan. “Dalam istilah kita membuka kran-kran informasi yang tersumbat. Paling tidak kritik, saran itu akan turut mempengaruhi atau mewarnai kebijakan Pemkab Purworejo yang diambil oleh para pejabat publiknya dalam menjalankan roda pemerintahan,” tukasnya.


Dalam perjalanan sejarah acara ini telah berjalan selama tiga tahun. Pertama kali acara itu kita beri nama Hallo Pak Kelik, namun karena banyak kritik dan saran dari berbagai pihak, lantas nama acaranya diganti dengan Hallo Purworejo. Selain itu radio yang kini telah berumur 39 taun tersebut juga membuka acara live talk show lainnya yang telah diprogram secara rutin setiap minggunya. Membahas mulai dari permasalahan kesehatan, pendidikan, bisnis maupun pelayanan publik. Acaranya bekerjasama dengan berbagai kalangan, baik instansi pemerintah, kalangan dunia usaha, BUMN/BUMD maupun pihak swasta.


Radio yang pernah dipancar luaskan melalui frekuensi 693 AM ini, untuk menuju ke radio publik juga memberikan kesempatan kepada semua pihak dan semua golongan yang akan menggunakan radionya sebagai media penyampai informasi. “Kami juga memberi kesempatan seluas-luasnya kepada semua pihak untuk turut mengisi acara di Radio Suara Irama. Sebab ini kan radio milik publik, jangan lantas terkesan hanya bisa digunakan oleh pemerintah daerah saja,” tutur Endah. Selain acara live talk show, Radio Suara Irama juga memiliki produk acara yang tak kalah tinggi ratingnya, yakni acara Detak Purworejo. Acara ini dikemas untuk menyampaikan berita-berita lokal Purworejo serta disiarkan dua kali sehari, pagi dan sore hari. Kini radio yang tengah berusaha keras meningkatkan statusnya sebagai radio publik ini, juga memprioritaskan siaran-siaran pandangan mata langsung dari tempat kejadian. Hal tersebut dilakukan untuk memuaskan para pendengar setianya di wilayah Kabupaten Purworejo dan sekitarnya. (Yul)

Rabu, 24 September 2008

Bila Tak Berobat ke Dokter Gigi Didenda

Beberapa tahun yang lalu, pemerintah Belanda memberi sanksi berupa denda (straaf) kepada masyarakat yang tidak berobat gigi dalam jangka waktu setahun, karena pemerintah menganggap penyakit gigi dan mulut membebani keuangan negara dan memberi kontribusi kerugian ekonomi bagi negara. Dan menurut penelitian, angka absen tertinggi anak sekolah dan karyawan yang disebabkan sakit gigi adalah mereka kehilangan 4 hari kerja perbulan. Belum lagi penyakit sistemik yang terjadi akibat sakit gigi yang tidak diobati. Kebijakan tersebut perlahan-lahan mulai dihapus, karena pemerintah Belanda menganggap saat ini masyarakat sudah sadar untuk berobat ke dokter gigi.



Demikian, dikatakan Drg. Dhanni Gustiana, dokter gigi Puskesmas Seboro Krapyak-Kecamatan Banyu Urip yang baru saja menyelesaikan Post Graduate Course selama dua bulan mulai tanggal 4 Mei – 3 Juli 2008 ,di WHO Collaborating Centre di St Radboud University-Nijmegen, Belanda. Kesempatan tersebut diikuti oleh 11 negara (Indonesia, Belanda, Kamerun, Uganda, Irlandia, China, India, Nigeria, Dominika, Filipina dan Bolivia) dan beliau merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang lolos seleksi dan mendapat beasiswa. Program yang bertema Oral Health Care and Future Scenarios (New Concepts in Educations and Oral Care) memperkenalkan metode klinis dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan teknologi mutakhir namun dapat diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia.



Selanjutnya Drg. Dhanni menjelaskan, dari data yang ada pada WHO, terungkap bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari Negara-negara Afrika dan Amerika Selatan (peserta program) ternyata kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia merupakan yang terburuk. Hal ini terlihat dari data bahwa penyakit gigi dan mulut di Indonesia menempati prosentase terbesar, rendahnya kesadaran masyarakat yang ditandai dari jumlah kunjungan ke dokter gigi yang sangat rendah, serta dari jumlah karies (lubang gigi) yang mencapai 97.4 % pada anak-anak.



Keikutsertaannya dalam program ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Metode pembelajaran serta peralatan yang modern serta interaksinya dengan peserta dari Negara lain dapat menjadi bekal untuk mengaplikasikan ilmu di tanah air. Kebetulan pula makalah presentasi Indonesia yang berjudul The new perspective in preventive dentistry dianggap sebagai yang terbaik, sehingga mendapat kehormatan untuk dapat dimasukkan ke Extract Magazine yaitu majalah Universitas St Radboud. Makalah ilmiahnya pun menarik perhatian peserta serta staf pengajar di Universitas. “Insya Allah, metode ilmiah saya ini akan diujicobakan di Filipina, Uganda serta Belanda sendiri. Saya berharap dukungan pemerintah dan masyarakat”, tuturnya. (Sus)

OSIS SMA Negeri 6 Beri Bantuan Korban Kebakaran

WAJAH haru terpancar dari wajah Suwarti (43) dan puterinya Dewi Astuti (15), keluarga korban yang rumahnya ludes terbakar. Itu setelah para siswa dari OSIS SMA Negeri 6 Purworejo menjenguk dan memberikan dukungan kepada mereka, Kamis (21/8). Didampingi guru mereka Eny Ermaini SPd, mereka memberikan bantuan sebanyak 23 dus berisi pakaian pantas pakai, mie instan, gula, kopi, teh, dan beras 2,5 karung seberat 250 kg, serta sejumlah uang.


Bantuan tahap ketiga tersebut diberikan langsung oleh Ketua OSIS SMAN 6 Muhammad Mugnis Syakur kepada Dewi Astuti didampingi ibunya, di kediaman paman Dewi, Wagino Darmosuwito, di Kelurahan Sindurjan RT 03 RW 06 Purworejo. Saat ini, untuk sementara Dewi sekeluarga menumpang di rumah Wagino hingga menunggu rumahnya dibangun kembali.


"Saya merasa terharu dan bahagia atas bantuan yang mereka berikan. Semoga kebaikan mereka mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT," ujar Suwarti.


Sementara itu guru pendamping OSIS SMAN 6 Eny Ermaeni menyampaikan pesan kepala sekolahnya Drs Urip Raharjo MPd, agar Dewi tetap sekolah, belajar yang giat untuk mengejar cita-citanya. SMAN 6 tetap akan memberikan dukungan dan bantuan.


Dewi yang sempat trauma atas kejadian tersebut kini bisa tersenyum dan menceritakan pengalaman pahitnya. Awal terbakarnya rumahnya, waktu itu ia baru saja memasak sayur dan memasak air dengan menggunakan anglo dengan bahan bakar arang. Usai memasak, Dewi sempat mematikan api. Setelah itu ia pun tidur. Ia sempat mendengar suara klitik-klitik suara bara api.


"Mungkin ada percikan api membakar lincak bambu. Waktu itu belum ada api namun berupa bara," ujar Dewi. (Yun)