Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro
Sebelum puncak kegiatan Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa Tasyakuran dan Peresmian Pressroom, terlebih dahulu para kulitinta yang bekerja di wilayah Kabupaten Purworejo bersama Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM menebarkan benih ikan Nila sebanyak 5.000 ekor di Bendung Boro, Sabtu (28/3).
Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan
Rangkaian kegiatan puncak Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa penanaman 300 pohon langka di Kawasan Potensi Wisata Gegermenjangan, Sabtu (28/3).
Sabtu, 13 Desember 2008
Kajari Purworejo Diserahterimakan
Edwin Desman, SH sebelumnya adalah Kajari Sekayu Banyuasin, Sumatera Selatan. Sedangkan Kajari Purworejo sebelumnya di promosikan sebagai Asisten Pembinaan di Kajati Papua.
Dalam sambutannya Wakajati Jawa Tengah menegaskan pergantian pejabat adalah hal yang biasa dan lazim dilakukan guna kelangsungan organisasi. Juga disinggung tentang komitmen kejaksaan untuk menuntaskan berbagai kasus, khususnya perkara korupsi. Pejabat yang baru hendaknya mau mawas diri, dalam menegakkan hukum dengan azas praduga tak bersalah.
Disampaikan pula bahwa bagi pejabat yang baru juga harus memiliki integritas yang tinggi. Terlebih masyarakat mengharapkan pemberantasan korupsi secara nyata. “Oleh karenanya bagi pejabat yang baru harus bertindak menegakkan hukum secara adil, profesional dan transparan dalam kinerja,”harapnya.
Dalam acara itu juga dihadiri segenap pejabat teras Pemkab Purworejo dan pejabat di lingkungan Kejari Purworejo. Termasuk di dalamnya Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM. (Sus)
Operasi Gabungan Grebeg PSK di Kutoarjo

Petugas gabungan dari Polres Purworejo, Kodim 0708 Purworejo, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Sosial (Disnakertransos), Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) serta Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) melakukan razia Pekerja Seks komersial (PSK) di dua tempat, Kamis (11/12/08) lalu. Yakni di warung remang-remang Gunung Tugel dan warung remang-remang di depan Stasiun Kereta Api Kutoarjo.
Operasi tersebut digelar dalam rangka menciptakan ketertiban lingkungan di wilayah Kabupaten Purworejo. Operasi itu dilakukan sebagai bentuk tindak lanjut dari banyaknya laporan masyarakat yang masuk baik ke polisi maupun instansi terkait lainnya. Menurut sumber yang dapat dipercaya, lokasi warung remang-remang Gunung Tugel dan warung remang-remang di depan Stasiun Kereta Api Kutoarjo memang sering dijadikan tempat mangkal serta transaksi PSK dengan para lelaki hidung belang. Transaksi tersebut hampir dilakukan setiap malamnya, dengan menyewa kamar Rp 10 ribu untuk tarif short time.
Dalam operasi ini hanya beberapa PSK dan lelaki hidung belang yang terjaring. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya kebocoran informasi sebelumnya. Seorang PSK dan seorang lelaki hidung belang tertangkap basah sedang berhubungan intim, keduanya ditemukan petugas dalam keadaan telanjang bulat. Untuk selanjutnya para PSK dan lelaki hidung belang tadi digelandang ke panti rehabilitasi untuk mendapatkan pembinaan. (Sum)
Selasa, 14 Oktober 2008
Live Talk Show Suara Irama Purworejo Bertujuan Membuka Kran-kran Informasi Tersumbat

Ternyata acara live talk show bersama publik di Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Suara Irama 88,5 FM Purworejo, mendapatkan rating tertinggi. Setiap acara yang diberi titel Hallo Purworejo itu digelar, pertanyaan yang masuk, baik melalui telepon maupun sms bisa mencapai 50 orang lebih. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala UPT RSPD Suara Irama Purworejo Endah Srigati (51), saat ditemui wartawan Buser Plus di kantornya, belum lama ini.
Lebih jauh Endah menjelaskan, kadang kala saking banyaknya pertanyaan yang masuk, sampai-sampai pihaknya agak kesulitan dalam membahasnya. Sebab waktu yang disediakan tidak mencukupi, padahal acara yang digelar setiap hari Senin malam itu, digeber cukup lama yakni 2 jam, mulai dari jam 20.00 WIB – 22.00 WIB. “Selain itu banyak juga pertanyaan yang masuk di luar tema yang kita bahas. Bukan berarti pertanyaan tesebut diabaikan, tetapi tetap kita respon dan dibahas oleh narasumber yang ada. Setiap Senin malam kita selalu menghadirkan narasumber Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM, dengan didampingi oleh pejabat teknis daerah sesuai tema yang dibahas,” kata Endah.
“Namun khusus untuk Senin Wage atau malam Selasa Kliwon, kita live dari Pendopo Rumah Dinas Bupati, menyiarkan acara Gendu-gendu Roso yang dilakukan oleh Bupati. Pada malam itu Bupati mengundhang semua pejabat teras di lingkungan Pemkab Purworejo untuk beramah tamah dan bowo roso membahas masalah yang sedang menjadi buah bibir, kalau di tingkat desa sering disebut selapanan,” ujarnya. “Kita baru menggelar acara live talk show dengan Bupati pada pagi harinya Selasa Kliwon. Acara live talk show ini frekuensinya ditambah mulai Bupati Puworejo dijabat oleh H Kelik Sumrahadi, SSos, MM. Kalau Bupati sebelumnya acara live talk show hanya digelar setiap Selasa Kliwon, atau selapanan sekali,” imbuhnya.
Lebih jauh Endah menjelaskan, bahwa di sini pihaknya tak hanya menyampaikan informasi searah kepada pendengarnya, namun lebih dari itu, yakni menjalankan fungsinya sebagai media penyambung antara masyarakat dengan pemerintah atau sebaliknya. Sehingga ada komunikasi dua arah demi kemajuan pembangunan Kabupaten Purworejo ke depan. “Dalam istilah kita membuka kran-kran informasi yang tersumbat. Paling tidak kritik, saran itu akan turut mempengaruhi atau mewarnai kebijakan Pemkab Purworejo yang diambil oleh para pejabat publiknya dalam menjalankan roda pemerintahan,” tukasnya.
Dalam perjalanan sejarah acara ini telah berjalan selama tiga tahun. Pertama kali acara itu kita beri nama Hallo Pak Kelik, namun karena banyak kritik dan saran dari berbagai pihak, lantas nama acaranya diganti dengan Hallo Purworejo. Selain itu radio yang kini telah berumur 39 taun tersebut juga membuka acara live talk show lainnya yang telah diprogram secara rutin setiap minggunya. Membahas mulai dari permasalahan kesehatan, pendidikan, bisnis maupun pelayanan publik. Acaranya bekerjasama dengan berbagai kalangan, baik instansi pemerintah, kalangan dunia usaha, BUMN/BUMD maupun pihak swasta.
Rabu, 24 September 2008
Bila Tak Berobat ke Dokter Gigi Didenda
Beberapa tahun yang lalu, pemerintah Belanda memberi sanksi berupa denda (straaf) kepada masyarakat yang tidak berobat gigi dalam jangka waktu setahun, karena pemerintah menganggap penyakit gigi dan mulut membebani keuangan negara dan memberi kontribusi kerugian ekonomi bagi negara. Dan menurut penelitian, angka absen tertinggi anak sekolah dan karyawan yang disebabkan sakit gigi adalah mereka kehilangan 4 hari kerja perbulan. Belum lagi penyakit sistemik yang terjadi akibat sakit gigi yang tidak diobati. Kebijakan tersebut perlahan-lahan mulai dihapus, karena pemerintah Belanda menganggap saat ini masyarakat sudah sadar untuk berobat ke dokter gigi.
Demikian, dikatakan Drg. Dhanni Gustiana, dokter gigi Puskesmas Seboro Krapyak-Kecamatan Banyu Urip yang baru saja menyelesaikan Post Graduate Course selama dua bulan mulai tanggal 4 Mei – 3 Juli 2008 ,di WHO Collaborating Centre di St Radboud University-Nijmegen, Belanda. Kesempatan tersebut diikuti oleh 11 negara (Indonesia, Belanda, Kamerun, Uganda, Irlandia, China, India, Nigeria, Dominika, Filipina dan Bolivia) dan beliau merupakan satu-satunya wakil Indonesia yang lolos seleksi dan mendapat beasiswa. Program yang bertema Oral Health Care and Future Scenarios (New Concepts in Educations and Oral Care) memperkenalkan metode klinis dan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut dengan teknologi mutakhir namun dapat diterapkan di negara berkembang seperti Indonesia.
Selanjutnya Drg. Dhanni menjelaskan, dari data yang ada pada WHO, terungkap bahwa walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dari Negara-negara Afrika dan Amerika Selatan (peserta program) ternyata kondisi kesehatan gigi dan mulut masyarakat Indonesia merupakan yang terburuk. Hal ini terlihat dari data bahwa penyakit gigi dan mulut di Indonesia menempati prosentase terbesar, rendahnya kesadaran masyarakat yang ditandai dari jumlah kunjungan ke dokter gigi yang sangat rendah, serta dari jumlah karies (lubang gigi) yang mencapai 97.4 % pada anak-anak.
Keikutsertaannya dalam program ini merupakan pengalaman yang sangat berharga. Metode pembelajaran serta peralatan yang modern serta interaksinya dengan peserta dari Negara lain dapat menjadi bekal untuk mengaplikasikan ilmu di tanah air. Kebetulan pula makalah presentasi Indonesia yang berjudul The new perspective in preventive dentistry dianggap sebagai yang terbaik, sehingga mendapat kehormatan untuk dapat dimasukkan ke Extract Magazine yaitu majalah Universitas St Radboud. Makalah ilmiahnya pun menarik perhatian peserta serta staf pengajar di Universitas. “Insya Allah, metode ilmiah saya ini akan diujicobakan di Filipina, Uganda serta Belanda sendiri. Saya berharap dukungan pemerintah dan masyarakat”, tuturnya. (Sus)
OSIS SMA Negeri 6 Beri Bantuan Korban Kebakaran
WAJAH haru terpancar dari wajah Suwarti (43) dan puterinya Dewi Astuti (15), keluarga korban yang rumahnya ludes terbakar. Itu setelah para siswa dari OSIS SMA Negeri 6 Purworejo menjenguk dan memberikan dukungan kepada mereka, Kamis (21/8). Didampingi guru mereka Eny Ermaini SPd, mereka memberikan bantuan sebanyak 23 dus berisi pakaian pantas pakai, mie instan, gula, kopi, teh, dan beras 2,5 karung seberat 250 kg, serta sejumlah uang.
Bantuan tahap ketiga tersebut diberikan langsung oleh Ketua OSIS SMAN 6 Muhammad Mugnis Syakur kepada Dewi Astuti didampingi ibunya, di kediaman paman Dewi, Wagino Darmosuwito, di Kelurahan Sindurjan RT 03 RW 06 Purworejo. Saat ini, untuk sementara Dewi sekeluarga menumpang di rumah Wagino hingga menunggu rumahnya dibangun kembali.
"Saya merasa terharu dan bahagia atas bantuan yang mereka berikan. Semoga kebaikan mereka mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT," ujar Suwarti.
Sementara itu guru pendamping OSIS SMAN 6 Eny Ermaeni menyampaikan pesan kepala sekolahnya Drs Urip Raharjo MPd, agar Dewi tetap sekolah, belajar yang giat untuk mengejar cita-citanya. SMAN 6 tetap akan memberikan dukungan dan bantuan.
Dewi yang sempat trauma atas kejadian tersebut kini bisa tersenyum dan menceritakan pengalaman pahitnya. Awal terbakarnya rumahnya, waktu itu ia baru saja memasak sayur dan memasak air dengan menggunakan anglo dengan bahan bakar arang. Usai memasak, Dewi sempat mematikan api. Setelah itu ia pun tidur. Ia sempat mendengar suara klitik-klitik suara bara api.
"Mungkin ada percikan api membakar lincak bambu. Waktu itu belum ada api namun berupa bara," ujar Dewi. (Yun)
RSUD Saras Husada Ditarget Maju Tingkat Nasional
Rumah Sakit Unit Daerah (RSUD) Saras Husada hendaknya mempersiapkan diri mewakili Jawa Tengah dalam penilaian kinerja Unit Pelayanan Publik (UPP). Setidaknya dalam 2 tahun ke depan RSUD harus sudah betul-betul siap maju di tingkat nasional. Apalagi didukung dengan filosofi yang dikenal dengan pelayanan prima.
Target 2 tahun tersebut ditegaskan Asisten Deputi Meneg PAN Bidang Pelayanan Publik, Bambang Anom selaku ketua tim penilai kinerja UPP saat menilai dan meninjau langsung di RSUD Purworejo (25/7). Tim penilai yang terdiri 4 orang dari pusat dan 2 orang dari propinsi diterima Wakil Bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain.
Bambang Anom merasa sangat yakin RSUD Purworejo akan menjadi yang terbaik dari unit-unit pelayanan yang lain. Berbekal manajemen pelayanan dan administrasi yang sudah ada, RSUD tinggal memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Kalau RSUD Purworejo betul-betul tekun, mungkin Purworejo akan menjadi percontohan di tingkat nasional. “Dua tahun kedepan kita bisa merubah Purworejo untuk apapun, kita siap membantu dan akan all out melebihi Ibu Ani Yudhoyono,” ujar Bambang dengan mantap.
Pelayanan publik yang sukses, menjadi prioritas pemerintah. Maka segala bentuk korupsi akan terus diberantas agar pelayanan publik bisa sukses untuk kepentingan masyarakat tanpa kecuali. Pelayanan yang didasari dengan pengabdian akan melahirkan pelayanan publik yang beriman. Bambang berharap agar RSUD selalu melakukan evaluasi dalam waktu 1 minggu, 1 bulan, dan 3 bulan. Dalam evaluasi harus disertai dokumen dan adminstrasi yang jelas.
Direktur RSUD Purworejo Drg Gustanul Arifin MKes dalam paparannya menjelaskan tujuan pelayanan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat. Diantaranya menyediakan alat kesehatan yang lengkap, biaya berobat yang terjangkau, dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat yang sedang antri obat atau masyarakat yang rawat jalan. ”Saya berharap agar karyawan RSUD menjadi yang terbaik dimanapun berada. Jadi tukang amplop jadilah tukang amplop yang baik, jadi apapun dalam pekerjaannya jadilah yang terbaik,”harapnya.
Disamping mengutamakan pelayanan yang baik, Gustanul juga mempunyai program agar rumah sakit bersih dari kucing. Karena kucing yang kotor menyebarkan virus tokso, penyebar TBC dan sebagainya. Sehingga setiap 3 bulan sekali dilakukan razia kucing. Bagi karyawan rumah sakit yang berhasil menangkap kucing dan membawa keluar dari lokasi rumah sakit, akan mendapat honor 10.000 rupiah. Sebelumnya jika menangkap 1 kucing hanya diberi 3000 rupiah, lalu naik 7000 rupiah, dan sekarang menjadi 10.000 rupiah. (Pras)
Slamet Tergolek Tak Berdaya, Butuh Bantuan
Anak yang lahir dari pasangan Karsimin (47) dan Ponidah (40) ini, menderita sejak umur 27 hari. Dalam usia yang belum genap sebulan itu, Slamet mengalami kejang-kejang sampai tidak bisa tumbuh normal. Sebab badannya lemas, nafasnya susah seperti banyak lendir, tidak bisa berbicara, dan pertumbuhan badannya sangat kurang. Makanan kesehariannya yang bisa ditelan hanya bubur nasi dan minum. Untuk makan dan minum pun harus ekstra hati-hati, karena mudah tersedak.
Beberapa kali Slamet yang tinggal di rumah sederhana di RT 2 RW I Desa Kunirejo Kulon Kecamatan Butuh, diperiksakan di RSUD Purworejo yang kemudian dirujuk ke RS Sarjito Jogja. “Sanjange doktere Sarjito, enten saraf otak ingkang soyo mengecil. Lajeng disaranke supados operasi,” ujar Ponidah yang didampingi Karsimin.
Tapi sampai usia 4 tahun ini, operasi yang disarankan tidak pernah terealisasi, karena terbentur biaya. Bahkan ketika opname di RS Sarjito, Slamet dibawa pulang paksa, meski Rumah Sakit belum megijinkan pulang. “Saking bangete pengin anak kulo mantun, namung betah biaya ingkang mboten sekedik. Kulo tiyang dusun mboten mampu, namung buruh tani penghasilan pas-pasan. Kulo namun pasrah mugi-mugi anak kulo saget mantun, wonten ingkang kerso mbantu mantunke,” harap Ponidah.
Kini Slamet hanya diperiksakan di Puskesmas yang tidak jauh dari rumahnya. Kejang yang diderita Slamet hingga saat ini masih rutin disandangnya. Munculnya kejang juga tidak tentu, kadang dalam sehari semalam bisa 3 sampai 4 kali. Jika kejang itu muncul, dengan segera diminumi obat dari Puskesmas, sehingga bisa sedikit mengurangi kesakitan Slamet. Setiap 15 hari, harus membeli obat yang diminum 3 kali sehari. Kartu JPS yang dimiliki tidak banyak membantu karena sebagian obat harus dibayar sendiri.
Slamet memimpikan tumbuh normal seperti teman sebayanya, bisa bercanda, bermain, dan bersekolah. Meski tidak bisa berbicara tetapi impian itu sangat jelas terlihat ketika ada yang datang menengoknya. Termasuk ketika tim anjangsana Kabupaten Purworejo memberikan bantuan.
Dari matanya Slamet ingin bercanda, dari gerak bibirnya dia ingin berbicara., dan dari gerak tangannya yang lemah dia ingin melakukan sesuatu. Tetapi semua itu belum pernah bisa terwujud karena ketiadaan dana. (Sus)
