Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro

Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro
Sebelum puncak kegiatan Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa Tasyakuran dan Peresmian Pressroom, terlebih dahulu para kulitinta yang bekerja di wilayah Kabupaten Purworejo bersama Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM menebarkan benih ikan Nila sebanyak 5.000 ekor di Bendung Boro, Sabtu (28/3).

Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan

Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan
Rangkaian kegiatan puncak Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa penanaman 300 pohon langka di Kawasan Potensi Wisata Gegermenjangan, Sabtu (28/3).

Sabtu, 30 Agustus 2008

GOR WR Soepratman Tak Layak Lagi Untuk Penyelenggaraan Event

Tim investigasi akhirnya turun ke lapangan, guna mengadakan penyelelidikan di GOR WR Soepratman Purworejo. Hal itu dilakukan terkait dengan terjadinya insiden terjatuhnya Darmawati Susanti (17) siswa kelas 1 SMA Negeri 7 pada acara Malam grand final Bagus-Roro, Sabtu (9/8) lalu. Tim menemukan konstruksi GOR WR Soepratman saat ini sudah tidak layak untuk dijadikan tempat menggelar event. Sudah terdapat beberapa kerusakan di berbagai tempat namun belum diperbaiki.

Sementara itu petugas jaga GOR WR Soepratman kepada WB menerangkan, bahwa sepengatahuannya sejak GOR dibangun dan diresmikan pada tahun 1987 silam, hingga sekarang belum pernah dilakukan renovasi ulang. Hingga kini umur bangunan tersebut sudah 21 tahun, wajar jika di beberapa bagian gedung sudah terdapat kerusakan. “GOR WR Soepratman ini sudah berumur 21 tahun. Waktu itu dibangun pada tahun 1987, seingat saya hingga sekarang belum pernah dilakukan renovasi ulang,” ujar Sukirman.


Kabid Pemuda dan Olah Raga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Purworejo, MGS. Sukusyanto tak mengelak dengan kondisi GOR WR Soepratman saat ini. Dia juga mengaku sangat prihatin atas kondisi tersebut. “Mau bagaimana lagi wong tidak ada anggaran untuk perawatan. Sementara itu beberapa bagian gedung sudah mulai rusak. Meski ada anggaran selama ini, namun hanya cukup untuk bayar listrik, air dan mengecat gedung,” ujarnya.


Wajar jika banyak pihak sekarang menuntut kepada Pemkab Purworejo dan DPRD untuk memperhatikan alokasi pendanaan renovasi ulang GOR WR Soepratman. Sebab dari data yang ada, tak sedikit pihak yang telah mengajukan ijin mennyelenggarakan event di sana. Jangan sampai insiden serupa terulang kelak dikemudian hari. (Pras)

RW 01 Desa Bubutan Juara I Bersih Lingkungan Tingkat Nasional

Kurang lebih 12 tahun lalu, Desa Bubutan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah merupakan sebuah desa yang paling kotor di Kecamatan Purwodadi. Hal tersebut menjadikan rasa keprihatinan tersendiri bagi para tokoh desa itu, dengan tekad dan semangat pantang surut berusaha keras agar Desa Bubutan terlihat cantik dan bersih. Semua cara ditempuh, termasuk di dalamnya memberikan pengertian tentang bagaimana hidup sehat di lingkungan yang bersih mulai dari anak-anak kecil. Atau istilah kerennya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), sejak kecil ditanamkan rasa tanggung jawab yang besar untuk ikut menjaga kebersihan lingkungan. Ternyata itulah yang menjadi kunci sukse Desa Bubutan dalam menyulap ‘wajah desa’ yang semula kotor dan tampak kumuh, kini menjadi bersih dan cantik.

Hal tersebut diutarakan oleh Ketua BPD Bubutan, Atas S Danusubroto (60), kepada WB usai menerima penghargaan juara I tingkat nasional Anugerah Hijau kategori bersih lingkungan, Minggu (10/8) lalu. Bertempat di Pelataran Parkir Keong Mas Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. RW 01 Desa Bubutan selain mendapatkan award dari penyelenggara Sampoerna Hijau, juga menerima hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 30 juta. “Tidak ada istilah lelah mengingatkan pada warga agar tetap menjaga kebersihan lingkungan. Entah itu dipertemuan RT, arisan ibu-ibu maupun lewat jalur pendidikan. Di RW 01, menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian dari PAUD,” ujar Atas. “Maka jangan heran jika anak usia 3 tahun sudah dapat ikut menjaga kebersihan lingkungan dan memilah-milah sampah. Sekarang masyarakat sudah sadar, pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dimulai dari rumah kita sendiri dan sekitarnya. Sehingga menjaga kebersihan lingkungan sudah menjadi sebuah tradisi di Bubutan,” imbuhnya.


Sementara itu Kepala Desa Bubutan Ir. Agus Wahyono menerangkan, 12 tahun silam petani di desanya harus mndatangkan pupuk kandang dari luar desa. Kebutuhan akan pupuk itu bisa mencapai 60-100 ton setian tanam palawija di musim kemarau. Pupuk sebanyak itu untuk memupuk lahan seluas 35 hektar dari 70 hektar sawah yang ditanami palawija. Sebab di Desa Bubutan jarang diketemukan pupuk kandhang, jarang warga masyarakat Desa Bubutan yang memelihara sapi maupun kambing. Sekarang kebutuhan pupuk itu bisa berkurang, dari kompos hasil olahan para petani Desa Bubutan sendiri. “Sekarang di setiap rumah warga sudah tersedia 3 tempat sampah plastik. Masing-masing bertuliskan kertas, plastik dan kaca, gunanya untuk memilah-milah sampah yang berasal dari limbah rumah tangga. Selain memudahkan dalam membuang sampah, juga memudahkan kita untuk mengambil sampah yang sekiranya masih bisa didaur ulang untuk bahan kerajinan,” kandhane Agus. “Sedangkan untuk sampah daun dan sampah lainnya yang bisa membusuk, dibuatkan lubang tersendiri di tanah pekarangan rumah. Sampah tadi lantas dibuat sebagai pupuk kompos, di musim kemarau bisa dipergunakan untuk pupuk tanaman palawija di sawah. Paling tidak dapat mengurangi biaya produksi pembelian pupuk dari luar desa,” imbuhnya.


Ya dari perjuangan berat serta membiasakan menjaga kebersihan mulai dari diri sendiri, lingkungan rumah, lingkungan RT, lingkungan RW hingga sekarang sampai pada lingkungan tingkat desa, membawa RW 01 Desa Bubutan meraih penghargaan nasional. Menyingkirkan 52 RW se-Indonesia dari 30 kota di tataran tingkat nasional. Selain RW 01 Desa Bubutan yang meraih juara I (mewakili area DIJ selatan-red), ada juga RW 08 dan RW 09 Kelurahan Krobokan Semarang Barat menduduki juara II (mewakili area Semarang-red) serta RW 05 Kelurahan Samaan Kecamatan Klojen Kota Malang (mewakili area Malang-red) menduduki juara III.


Dalam kategori Hijau Lingkungan juara I RW 01 Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing Kota Malang, juara II RW 02 dan RW 06 Kelurahan Bulu Lor Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang serta juara III RW 07 Kelurahan Tegalsari Kecamatan Tegal Barat Kota Tegal. Sedangkan kategori Taman Lingkungan, yang duduk sebagai juara I yaitu RW 02 Kelurahan Ngesrep Kecamatan Banyumanik Kota Semarang, RW 05 Kelurahan Sampangan Kecamatan Gajah Mungkur Kota Semarang mendapatkan juara II dan RW 02 Kelurahan Cipedak Kecamatan Jagakarsa Kota Jakarta Selatan menjadi juara III. Penghargaan khusus untuk kepeloporan, juara I jatuh pada Ibu Wahyuningsih dari RW 05 Kelurahan Sampangan, juara II Ibu Ima dari RW 08 Sumber Taman Probolinggo dan juara III disabet oleh A Syarifuddin dari RW 01 Rong Tengah Sampang.


Sementara itu penghargaan khusus untuk kategori spirit warga juara I digondol RW 01 dan RW 02 Rong Tengah Sampang, RW 03 Sindurjan Purworejo mendapatkan peringkat II serta juara III disabet oleh RW 16 Cigugur Tengah Cimahi. Total jumlah penghargaan yang diserahkan dalam acara tersebut ada 15 award. Selain tanda penghargaan berupa tropi, bagi yang menang juga diberikan uang pembinaan sebesar Rp 30 juta untuk juara I, Rp 20 juta untuk juara II dan juara III menerima Rp 10 juta. Sedangkan kejuaraan kategori spirit warga hanya mendapatkan uang pembinaan masing-masing sebesar Rp 5 juta. (Eko Mulyanto)

Terkait Insiden di GOR, Panitia Penyelenggara Malam Grand Final Bagus-Roro Dipanggil Polisi

Terkait insiden terjatuhnya seorang penonton, Darmawati Susanti (16) siswi kelas 1 SMA Negeri 7 Purworejo, pada acara Malam grand final Bagus-Roro Kabupaten Purworejo, Sabtu (9/8) lalu, Ketua I Panitia tersebut, yakni Drs. Sumarno dipanggil pihak kepolisian. Sumber WB yang dapat dipercaya di Polres Purworejo mengatakan, Sumarno dimintai keterangan di Mapolres Purworejo, sebagai saksi pada kejadian tadi. Belum ada penetapan tersangka dalam kasus itu. Hingga laporan ini diturunkan pihak kepolisian mengaku masih terus mengorek keterangan dari para saksi termasuk di dalamnya panitia penyelenggara.

Pemanggilan itu guna mengetahui ada atau tidaknya indikasi kelalaian panitia penyelenggara dalam mempersiapkan event Malam grand final Bagus-Roro Kabupaten Purworejo 2008. Bahkan pihak kepolisian juga melakukan peninjauan lokasi terjatuhnya seorang penonton yang menyebabkan luka memar di tubuh bagian kanan dari pergelangan tangan hingga pantat.


Sementara itu beberapa pihak tetap mengecam keras, ketidakprofesionalan panitia penyelenggara. Sebab pihak PMI yang ditunjuk sebagai seksi P3K saja, tidak diberi mandat untuk menurunkan tim medisnya. Mereka mengaku hanya mendapat surat tembusan dari panitia penyelenggara agar memantau acara tersebut. Pihak panitia juga terkesan membiarkan para penonton yang dengan sengaja menghentakkan kaki ke lantai tribun yang terbuat dari papan kayu. (Pras)

Penipuan Berkedok MLM Pensiunan PNS Dilaporkan ke Polisi

Seorang pensiunan PNS bernama Drs. Paryono warga Kelurahan Cangkreplor RT 02/RW 03, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, terpaksa harus berurusan dengan pihak berwajib. Pasalnya dia dilaporkan telah melakukan penipuan terhadap anggota usaha Multi Level Marketing (MLM) yang didirikannya. Apes, usaha tersebut tidak dapat berjalan sesuai dengan rencana. Sehingga banyak anggota yang merasa dirugikan, padahal usaha ini telah diikuti oleh 300-an anggota dan dana yang terkumpul di perusahaan itu sekitar Rp 150 juta.

Kapolres Purworejo AKBP Drs. Imran Yunus, MH melalui Kasat Reskrim AKP Suliyanto membenarkan adanya laporan tersebut. Sementara itu Bambang Priyono warga Jl. Pramuka 62 Purworejo, yang juga merupakan patner kerja Paryono kini masih dalam pengejaran polisi. Diduga dana yang masih ada di perusahaan tadi, sebesar Rp 150 juta ikut dibawa kabur Bambang.


Suliyanto lebih jauh mengatakan, perusahaan MLM itu bernama CV Bersatu Sejahtera Bersama (BSB). Didirikan olah Paryono dan Bambang pada tanggal 8 Januari 2008 lalu. Adapun kantornya berada di rumah kediaman Paryono di Cangkreplor, Purworejo. Usaha MLM ini bergerak di bidang pelunasan kredit secara cepat, bagi para anggotanya.


Sehingga anggota MLM ini adalah mereka yang memiliki kredit sepeda motor yang belum lunas. Anggota diiming-imingi kreditnya akan dilunasi oleh CV BSB ketika angsuran kreditnya sudah mencapai 10 kali. Bagi calon anggota diminta untuk membayar uang pangkal sebesar Rp 750 ribu. Selain harus menunjukkan akhad kredit sebagai bukti untuk menjadi anggota, juga diwajibkan dapat membawa 6 orang untuk menjadi anggota baru CV BSB.


Sehingga uang yang masuk ke CV BSB sebesar Rp 5.250.000,00, setelah itu barulah anggota tadi mendapatkan honor sebesar Rp 1,5 juta. Barulah anggota tadi mendapatkan Surat Penjaminan Subsidi Kemitraan (SPSK) dari CV BSB dan yang bersangkutan dijanjikan kreditnya akan dilunasi setelah mencapai 10 kali angsuran.


Anehnya tersangka Paryono saat dimintai keterangan polisi mengaku tidak tahu menahu perihal kasus macetnya pembayaran uang kepada para anggotanya. Katanya semua yang mengurusi adalah Bambang, “Saya tidak tahu menahu tentang kasus macetnya bisnis ini. Semua yang mengurus adalah Pak Bambang,” ujarnya kalem. “Yang saya ketahui dana anggota yang seharusnya masih ada di perusahaan sebesar Rp 150 juta,” imbuhnya. Sementara itu dari data yang ada ternyata anggota MLM CV BSB tak hanya dari lokal Purworejo. Namun ada juga yang berasal dari Temon (Kulonprogo), Wonosobo, Salaman (Magelang), Kebumen, Jember (Jawa Timur) dan Temanggung. (Eko Mulyanto)

Malam grand final Bagus-Roro Nyaris Menelan Korban, Panitia Dinilai Tidak Profesional

Malam grand final Bagus-Roro Kabupaten Purworejo, Sabtu (9/8), diwarnai sebuah insiden dan nyaris memakan korban. Darmawati Susanti (16) siswi SMA Negeri 7 Purworejo terjatuh dari tribun paling atas, hingga menembus eternit di bawahnya dan terjatuh di teras luar dari ketinggian sekitar 6 meter. Tribun yang terbuat dari papan kayu itu tidak mampu menahan beban penonton yang memadati tribun.

Korban saat itu juga langsung dilarikan ke RSUD Saras Husada Purworejo untuk mendapatkan pertolongan medis. Beberapa luka lecet dan memar akibat benturan terlihat dibeberapa bagian tubuh korban. Berdasarkan pengamatan WB di lokasi kejadian, pada saat berlangsungnya event tahunan itu, penonton tampak memadati tribun. Mereka banyak yang berjingkrak-jingkrak untuk memberikat dukungan kepada peserta yang dijagokan. Kondisi di dalam GOR cukup gaduh dan didominasi oleh suara hentakan kaki penonton pada dasar tribun yang terbuat dari papan kayu tersebut. “Disela-sela suara keramaian itu terdengar jeritan seorang perempuan, tak tahunya ada yang jatuh dari tribun paling atas,” tukas seorang penonton.


Sementara itu orang tua korban Teguh Santoso (48), saat dihubungi WB mengaku sangat kaget mendengar putrinya mendapat kecelakaan. Dirinya mengaku belum mempunyai rencana apa-apa untuk menindaklanjuti masalah tersebut. “Saya belum tahu akan berbuat apa, namun yang paling pokok anak saya bisa cepat tertolong,” ujar Teguh kepada wartawan.


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Purworejo Ir Rachmadi Setiawan belum dapat dikonfirmasi. Orang nomor satu di Disbudpar itu terkesan selalu menghindari wartawan. Bahkan saat beberapa wartawan yang ingin menghubunginya lewat hand phone, tidak mau menerima bahkan langsung dimatikan.


Beberapa pihak menilai panitia penyelenggara tidak professional. Bahkan diduga tidak melakukan tindak antisipasi sedini mungkin. Terbukti pihak keamanan yang dilibatkan dalam acara tersebut minim sekali, demikian pula dengan penyediaan P3K. bahkan pihak panitia seolah menutup-nutupi jumlah penonton yang memadati GOR WR Soepratman malam itu. Jumlah penonton yang diperkirakan mencapai lebih dari 2.500 orang, oleh pihak panitia diklaim hanya ada 2.000 pengunjung. Sementara itu jumlah tiket yang terjual hanya sekitar 1.800 lembar, dengan harga per lembarnya Rp 10 ribu. (Pras)

Sabtu, 16 Agustus 2008

Paseban Bagelen Garap Seni Pesta Rakyat BRI

Sanggar Kesenian Paseban Bagelen kembali dipercaya untuk menggarap acara pentas seni Pesta Rakyat BRI Purworejo, (9-10/8) lalu. Kepercayaan tersebut tak luput dari berbagai prestasi tingkat daerah maupun nasional yang diraih oleh berbagai pihak dengan melibatkan garapan Sanggar Seni Paseban Bagelen selama ini.

Seperti baru-baru ini menghantarkan tim kesenian SMU Negeri 7 Purworejo menjadi juara dalam ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Demikian juga Sanggar Paseban Bagelen pimpinan Riyanto Purnomo juga telah menghantarkan tim SMP Negeri 17 Purworejo menjadi juara 1 se-eks Karesidenan Kedu dan juara 3 se-Jawa Tengah dalam Olimpiade Seni SMP se-Jawa Tengah Tahun 2008.


Dalam Pesta Rakyat BRI tersebut Sanggar Kesenian Paseban Bagelen, selain dipercaya menggarap acara pentas seninya, juga menurunkan kelompok musiknya untuk mengisi jingle opening-nya. Adapun beberapa kelompok kesenian tradisional khas Kabupaten Purworejo, yang turut digandheng untuk mengisi acara meliputi Dolalak Putri Puspasari (Desa Bugel, Kecamatan Bagelen), Kuda Kepang Krida Budaya (Desa Soko, Kecamatan Bagelen) dan Cekok Mondol (Desa Ngasinan, Kecamatan Bener).


Riyanto Purnomo kepada WB menuturkan, dalam waktu dekat ini pihaknya juga sedang dipercaya untuk menggarap koreografi beberapa kelompok kesenian tradisional dalam berbagai event. Baik yang bersifat lokal, maupun nasional. Nothing Imposible (tak ada yang tak mungkin), demikian motto peraih juara II Pemuda Pelopor tingkat Nasional tahun 2007 ini. (Eko Mulyanto)

Kesal Penanganan Berlarut-larut, Warga Segel Balai Desa

Lambatnya penanganan pencopotan Sekdes Wareng, Kecamatan Butuh, yang diduga melakukan tindak asusila menjadikan warga marah. Selang sehari usai melakukan aksi demo di balai desa setempat Rabu (23/7), masyarakat Desa Wareng menggeruduk Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo, Kamis petang (24/7) lalu. Mereka diterima oleh Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, S.Sos, MM. Tuntutan meraka sudah bulat, Bupati harus mencopot jabatan Sekdes Wareng dari tangan Basuki Pujo Raharjo secepatnya.

Namun karena pencopotan tersebut belum juga dilakukan, Warga Desa Wareng dengan menggunakan truk kembali mendatangi Kantor Kecamatan Butuh untuk kembali menyampaikan tuntutannya, Selasa (29/7). Kedatangan mereka ditemui oleh Camat Butuh Drs. Wahyu Jaka S. Pada kesempatan itu Wahyu Jaka S memberi keterangan bahwa kasus Sekdes Wareng masih diproses. “Saat ini kasusnya sedang ditangani oleh Bawasda, kami mohon warga untuk bersabar, percayakan penanganannya sesuai dengan prosedur yang ada,” kata Jaka.


Berdasarkan sumber informasi yang dapat dipercaya di Kantor Kecamatan Butuh, Sekdes Wareng Basuki Pujo Raharjo pada saat itu sedang berada di salah satu ruangan Kantor Kecamatan Butuh. Ia sedang menjalani pemeriksaan yang dilakukan oleh Bawasda Kabupaten Purworejo. Sementara itu seorang perempuan yang diduga kuat teman kencan Basuki, pada waktu yang sama juga tengah menjalani pemeriksaan oleh Bawasda. Pemeriksaan teman kencan Basuki dilakukan di Kantor Kecamatan Kutoarjo, mengingat sang perempuan tadi merupakan salah satu warga desa di wilayah Kecamatan Kutoarjo, Purworejo.


Mendengar jawaban tersebut, warga masyarakat Desa Wareng yang masih marah tanpa komando membubarkan diri. Namun untuk melampiaskan kekesalan, mereka sebelum pulang ke rumah masing-masing, melakukan penyegelan pintu balai desa setempat. Penyegelan itu dilakukan dengan menggunakan sebuah papan tulis bertuliskan “Sing Bukak Pintu Kancane Basuki.”


Warga mengaku tak ada yang memerintahkan penyegelan tersebut, hal itu dilakukan secara spontan. “Kasus asusila Basuki yang ke dua ini sudah tidak bisa ditolerir. Sebab dia pernah berjanji kepada warga tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Hal memalukan itu dilakukannya pada Juni 2007 lalu, parahnya dengan tetangganya sendiri,” teriak seorang warga.


Sementara itu beberapa pejabat di lingkungan Pemkab Purworejo yang ditemui WB enggan berkomentar masalah penyegelan kantor balai desa oleh warganya itu. (Eko Mulyanto)