Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro

Penebaran 5.000 Benih Ikan di Bendung Boro
Sebelum puncak kegiatan Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa Tasyakuran dan Peresmian Pressroom, terlebih dahulu para kulitinta yang bekerja di wilayah Kabupaten Purworejo bersama Bupati Purworejo H Kelik Sumrahadi, SSos, MM menebarkan benih ikan Nila sebanyak 5.000 ekor di Bendung Boro, Sabtu (28/3).

Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan

Penanaman Pohon Langka di Gegermenjangan
Rangkaian kegiatan puncak Hari Pers Nasional Kabupaten Purworejo Tahun 2009, berupa penanaman 300 pohon langka di Kawasan Potensi Wisata Gegermenjangan, Sabtu (28/3).

Kamis, 07 Agustus 2008

Bagus Roro Mulai Diseleksi

15 besar peserta Bagus dan Roro Kabupaten Purworejo akan bersaing dalam malam grand final (9/8) di GOR WR Supratman Purworejo. 15 besar peserta tadi merupakan hasil seleksi pada babak penyisihan Bagus dan Roro, yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Purworejo di Gedung Wanita Ahmad Yani Purworejo belum lama ini.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Bagus dan Roro Drs. Sukasno, peminat ajang paling ganteng dan paling cantik se-Kabupaten Purworejo tahun ini lebih besar bila dibandingkan dengan tahun lalu. Jika tahun lalu yang mendaftarkan diri hanya berjumlah 40 pendaftar, untuk tahun ini bisa mencapai jumlah 74 pendaftar. Dari ke-74 pendaftar tadi 40 pendaftar Bagus dan 34 pendaftar Roro.


Para peserta ajang Bagus dan Roro ini tak hanya harus menampakkan kegantengan dan kecantikan luarnya saja, namun secara intelektual dan kepribadian juga turut menentukan. Adapun penilaiannya meliputi kesehatan, kepariwisataan, etika, performen, Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris. Tim yuri yang terlibat dalam event tersebut terdiri atas dr. Lina Kurniawati, Drs. Sunardi, Purwandani, SPd, Supodo, BA dan Dra. Nikmah Nurbaiti. Pemenang dalam malam grand final Bagus dan Roro, Kabupaten Purworejo tahun ini, rencananya akan dikirim menjadi duta wisata Kabupaten Purworejo dalam kontes serupa di tingkat Propinsi Jawa Tengah. (Sus)

Minggu, 03 Agustus 2008

SMU Negeri 7 Purworejo Dapatkan Medali Emas di FLS2N

Duta Kesenian Kabupaten Purworejo kembali menorehkan tinta emas di ajang Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N), yang digelar di SMA Negeri 2 Bandung (21-26/7) lalu. Duta kesenian asal SMU Negeri 7 Purworejo ini berhasil menyumbangkan 1 medali emas untuk kontingen kesenian Propinsi Jawa Tengah dalam ajang tersebut. Setelah duta yang terdiri atas Linda Liana kelas 11 IPA dan Daniel Setya Pambudi kelas 12 SMU Negeri 7 Purworejo, berhasil menjadi penyaji terbaik dalam lomba Cipta Tari Berpasangan dalam event FLS2N. Mereka berhasil menyisihkan 32 peserta dari kontingen kesenian propinsi se-Indonesia.

Tari yang mereka bawakan berjudul Nrentheng dengan koreografi Rianto Purnomo pimpinan Sanggar Seni Paseban Bagelen. Tari ini sebenarnya adalah tari kreasi baru yang digarap dari kesenian tradisional khas Kabupaten Purworejo, Dolalak. Jalan ceritanya menuturkan tentang remaja dalam usianya yang beranjak dewasa tanpa sadar sering melakukan hal-hal yang bisa dibilang konyol. Diperlihatkan pula mulai adanya ketertarikan dengan lawan jenis. Hal tersebut membuat mereka lebih bergaya agar diperhatikan oleh sang lawan jenis. Saling menggoda, canda ria turut mewarnai tarian ini. Nampak pula kesan jinak-jinak merpati, kemayu, gemagus, lirikan maut, ngetol, getaran pundak, semua itu untuk memikat pujaan hati, menambah semakin hidupnya tarian berpasangan ini.


Sebelum ikut dalam event tingkat nasional itu diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional ini, para penari dari SMU Negeri 7 Purworejo tadi telah bekerja keras menjadi juara di tingkat Kabupaten, eks Karesidenan Kedu hingga tingkat Propinsi Jawa Tengah. (Eko Mulyanto)

Rabu, 30 Juli 2008

Diduga Kuat Melakukan Tindak Asusila, Sekdes Wareng Dituntut Untuk Dipecat

Merasa tidak puas dengan jawaban para pejabat teras Kecamatan Butuh, Puluhan warga Desa Wareng, Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo nyaris merusak kantor balai desa setempat, Rabu (23/7). Mereka sejak pagi melakukan demontrasi di halaman balai desa menuntut Sekdes Wareng Basuki Pujo Raharjo mundur atau dicopot dari jabatannya. Tuntutan itu dilakukan berkaitan dengan adanya dugaan kuat tindak asusila yang dilakukan oleh Basuki.

Bahkan Muspika Butuh yang terdiri atas Camat Butuh Drs Wahyu Jaka S dan Kapolsek Butuh AKP Lasiyem beserta jajaran Koramil Butuh, dihadang oleh para demonstran tidak boleh meninggalkan halaman balai desa sebelum tuntutan mereka dikabulkan. Para demonstran menghalang-halangi Muspika Butuh dengan jalan menutup jalan keluar menggunakan sepeda motor dan pagar betis, sehingga mobil yang ditumpangi Muspika Butuh tidak bisa keluar. “Sebelum ada kepastian, Pak Camat tidak boleh pulang,” celetuk salah satu peserta demontrasi. Setelah negosiasi alot antara peserta demonstrasi dengan Muspika, barulah mereka diperbolehkan meninggalkan Balai Desa Wareng.


Berdasarkan pantauan WB di lokasi kejadian, pertemuan antara warga peserta demonstrasi, Perangkat Desa, Muspika, Pemdes dan BPD awalnya cukup kondusif. Namun berubah beringas ketika hasil pertemuan itu dinilai masih mentah oleh warga.


Juru bicara peserta demonstrasi Kyai Samsudin, mengungkapkan bahwa tuntutan dicopotnya jabatan Sekdes dari diri Basuki adalah wajar. Karena tindak asusila itu telah melanggar pager ayu dan mencoreng nama baik desanya. ’’Ini untuk menjaga nama baik desa di mata masyarakat luar,’’ tutur Samsudin.


Lebih jauh Samsudin menceritakan, bahwa kasus asusila yang dilakukan oleh Basuki adalah bukan yang pertama kali. Dahulu kejadian serupa pernah dilakukan oleh Basuki pada bulan Juni 2007. Lebih parahnya tindak asusila itu dilakukan dengan tetangga dekatnya. Namun kasus itu dapat diselesaikan dengan kekeluargaan, warga mau memaafkan kelakuan Basuki. Waktu itu Basuki disumpah di hadapan warga agar tidak mengulangi perbuatannya. “Namun yang terjadi malah sebaliknya, bukannya kapok perbuatan tak sepatutnya itu diulangi lagi. Kali ini tidak dengan warga satu desa, akan tetapi dengan warga desa lain,” ujar Samsudin.


Masih menurut Samsudin dasar pencopotan Basuki dari jabatannya tidak sulit. Karena Basuki sebelum menjabat sebagai Sekdes pernah menandatangani kontrak politik dengan warga Desa Wareng. Isinya cukup jelas, jika masyarakat tidak lagi percaya dengan dirinya maka Basuki bersedia mengundurkan diri dari jabatannya.


Pemkab Tak Akan Gegabah


Dalam penanganan kasus dugaan tindak asusila yang dilakukan oleh Sekdes Wareng Basuki Pujo Raharjo, tampaknya pihak Pemkab Purworejo tak mau gegabah. Hal tersebut tampak dari keengganannya untuk langsung mencopot Sekdes Wareng Basuki Pujo Raharjo dari jabatannya. Namun demikian Pemkab Purworejo akan segera menindaklanjuti laporan warga. Bahkan tak selang waktu lama langsung menurunkan tim yang terdiri atas Pemdes, BPD maupun Bawasda untuk merespon aspirasi warga Desa Wareng tadi.


Secara terpisah Camat Butuh Drs Wahyu Jaka S menjelaskan, bahwa Bawasda pernah memberikan peringatan keras kepada Basuki dalam kasus perselingkuhannya yang pertama Juni 2007. ’’Jangan grusa-grusu, akan tetapi marilah kita selesaikan kasus ini dengan baik. Saya mengerti dengan tuntutan warga, namun kita harus tetap mengacu pada mekanisme dan hukum yang ada. Masalah ini masih bisa kok kita selesaikan dengan jalan musyawarah bersama,’’ pintanya.


Lebih jauh Camat Butuh mengatakan, penanganan kasus Basuki itu mengacu pada Perda Nomor 7 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pencalonan, Pengangkatan, Pelantikan, dan Pemberhentian Perangkat Desa. Jadi bukan kasus pidana, kasus ini masuk dalam kategori asusila yang melanggar norma agama dan sosial. “Ada beberapa prosedur dan sanksi yang harus dilalui. Pertama peringatan, pemberhentian sementara hingga pemberhentian tidak hormat. Sebelum sanksi itu dijatuhkan, kita perlu bukti kuat. Makanya sanksi akan dijatuhkan setelah pemeriksaan Bawasda selesai,” ujarnya. (Eko Mulyanto)

Kasus TK Negeri Pembina Grabag Mulai Diperiksa Kejaksaan

Kejaksaan Negeri Purworejo memeriksa 10 orang terkait dengan kasus pembangunan TamanKanak-kanak (TK) Negeri Pembina yang terletak di Desa/Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Pembangunan TK tersebut dinilai tidak sesuai dengan bestek yang telah ditentukan. Namun hingga berita ini diturunkan pihak Kejaksaan Negeri Purworejo enggan menyebutkan identitas maupun status ke-10 orang tersebut.

Kepala Kejaksaan Negeri Purworejo Heriyanto Serumpun, SH hanya menyebutkan dari ke-10 orang itu beberapa diantaranya sudah dapat dipastikan sebagai tersangka. “Namun saya belum bisa membeberkan identitas dan status masing-masing kepada media. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan lebih lanjut,” tandas Heriyanto.


Ada indikasi tindak pidana korupsi dalam pembangunan TK Negeri Pembina yang menelan dana sebesar Rp 450 juta. Tak hanya itu saja, banyak pihak menyatakan pembangunan TK Negeri Pembina Grabag tidak sesuai bestek yang ada. Bahkan kondisi bangunannya tak layak huni, selain bahan baku bangunan tidak sesuai dengan standar mutu yang telah digunakan, atap gedung tersebut kini dalam keadaan melengkung. Sehingga sangat membahayakan bagi siapa saja yang menempatinya.


Lebih parah lagi warga menolak bangunan yang sudah ada dan menyatakan diri enggan menyekolahkan anak-anak mereka di TK Negeri Pembina Grabag. Wajar sebab warga tidak mau anak-anak mereka tertimpa atap bangunan yang sewaktu-waktu dikhawatirkan dapat roboh. (Eko Mulyanto)

Bercocok Tanam di Tepian Sungai Bogowonto

Memasuki musim kemarau, warga Kecamatan Bagelen, yang tinggal disepanjang tepian Sungai Bogowonto memanfaatkan dasar sungai yang tidak tergenang air untuk bercocok tanam. Hal tersebut dilakukan untuk menambah pendapatan bagi keluarga mereka. Jenis tanaman yang biasa mereka tanam adalah palawija. Seperti jagung, kacang tanah, kacang panjang, tomat, lombok dan tembakau.


Cara ini mereka pilih karena bercocok tanam di dasar sungai yang kering memudahkan mereka dalam pengolahan tanahnya. Tanah berpasir bekas aliran sungai tadi mudah ditanami dan biasanya lebih subur jika dibandingkan dengan tanaman palawija di pekarangan atau di areal persawahan. Penggunaan pupuk di lahan bekas aliran sungai juga lebih hemat, sebab tanpa dipupukpun biasanya tanaman palawija yang mereka tanam bisa tumbuh lebih subur.


“Bercocok tanam di bekas aliran air Sungai Bogowonto yang kini kering sudah kami lakukan sejak puluhan tahun silam. Sejak saya kecil sudah ada Mas,” tutur Wigoro (40). “Pengolahan tanahnya juga lebih mudah, tidak perlu dicangkul dalam-dalam. Cukup dibuat bedhengan, lantas ditanami. Pengairannya juga mudah dan dekat, cukup diambilkan dari air sungai,” imbuhnya.


Sementara itu Amat Nasroh (50) yang juga menanam palawija di tepi Sungai Bogowonto mengatakan, hal tersebut selain untuk menambah pendapatan keluarga di masa ekonomi sulit seperti sekarang ini. Menanam palawija di bekas aliran sungai juga menghemat pupuk, biasanya humus yang hanyut terbawa aliran sungai dan mengendap merupakan pupuk alami yang datang sendiri. Bahkan menurut Amat, meski tidak diberikan pupuk tambahan, tanamannya sudah tumbuh dengan subur dan buahnya juga lumayan lebat. “Namun jeleknya hal tersebut baru bisa dilakukan oleh para petani di tepi Sungai Bogowonto hanya di musim kemarau,” ungkapnya.


Uniknya lagi lahan di sana di bagian atas sudah dipetak-petak dan ada pemiliknya. Namun untuk bagian bawah (yang berdekatan dengan air sungai-red) tidak ada yang memiliki. Lahan tersebut sering mereka sebut sebagai lahan kewedhen. Bagi mereka yang akan bertanam di lahan kewedhen tadi, harus berlomba-lomba siapa yang cepat dia yang dapat. (Yuyun)

Pemkab Purworejo Komit Program Pelatihan Ketrampilan Bagi Narapidana

Pemkab Purworejo hingga saat ini menyatakan diri tetap komit untuk mengadakan program pelatihan ketrampilan di Lapas. Baik itu di Lapas Anak-anak Kutoarjo maupun Lapas Purworejo. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja lan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Purworejo Drs. Pram Prasetyo Ahmad kepada WB belum lama ini. “Setiap tahunnya Pemkab Purworejo melalui Disnakertrans pasti menganggarkan dana di APBD II khusus untuk pelatihan ketrampilan bagi para narapidana. Ini sudah menjadi komitmen Pemkab Purworejo,” tandas Pram. “Bagaimanapun mereka itu manusia biasa seperti kita, yang tidak bisa luput dari lupa, khilaf dan salah,” imbuhnya.

Pram juga berkata, entah hanya dua paket untuk dua Lapas yang ada di Kabupaten Purworejo, pasti para narapidana itu dapat jatah pelatihan ketrampilan. Semua itu disesuaikan dengan anggaran yang ada. Khusus untuk tahun 2008 ini ada dua paket pelatihan ketrampilan untuk para narapidana. Satu paket diadakan di Lapas Purworejo dan satu paket lagi dilaksanakan di Lapas Anak-anak Kutoarjo. “Sedangkan untuk tahun anggaran 2007 lalu juga ada dua paket untuk pelatihan ketrampilan bagi narapidana,” ujarnya.


Adapun bentuk pelatihannya menurut Pram, diantaranya las, otomotif dan elektronik. Untuk otomotif berupa perbengkelan sepeda motor, dene elektronik berupa mesin pendingin AC dan almari es. Ternyata sambutan dari para peserta pelatihan sangat luar biasa. Sebab pelatihan ketrampilan ini diprogramkan hingga benar-benar terampil, sehingga pelatihannya tidak hanya cap ecek-ecek. Lama program pelatihan biasanya hingga 40 hari.


“Jika jajaran Disnakertrans tidak menguasai materinya, tidak tanggung-tanggung kami akan mendatangkan para ahlinya,” kata Pram. “Selain memberikan pelatihan yang sifatnya kejuruan, di sela-sela pelatihan kita juga mengisi materi motivasi hidup yang lebih baik. Diharapkan setelah bebas dari Lapas mereka bisa hidup mandiri dan memiliki semangat hidup serta percaya diri yang besar, agar mereka tidak minder di masyarakat hanya karena menyandang gelar baru bekas narapidana. Jangan heran keluar dari Lapas ada mantan narapidana yang bisa sukses berwiraswasta, karena mereka telah dibekali suatu keahlian,” tambahnya.


Selain program pelatihan dari Disnakertrans, pihaknya juga sering diajak kerjasama dengan instansi lain untuk mengadakan pelatihan ketrampilan untuk para narapidana di Lapas. Seperti halnya pelatihan otomotif kejuruan sepeda motor yang diadakan di Lapas Anak Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah belum lama ini. Pelatihan tadi merupakan hasil kerjasama antara Lapas Anak Kutoarjo, Direktorat PLSB Departemen Pendidikan Nasional dan Disnakertrans melalui BLKIP Kabupaten Purworejo. Pelatihan itu diikuti oleh 20 narapidana anak yang sedang terkena beberapa kasus di sana.


Lepas dari semua itu secara umum program utama Disnakertrans Purworejo di tahun 2008 ini, adalah sebagai tindak lanjut pasca pelatihan, evaluasi dan meneruskan pelatihan institusional dan non institusional. Yaitu sebuah program untuk meneruskan hasil dari pelatihan-pelatihan di tahun sebelumnya. Sehingga tidak ada kesan Disnakertrans melarikan diri, akan tetapi Disnakertrans tetap ikut bertanggungjawab pasca pelatihan, mereka tetap akan dibina terus hingga mampu berdiri sendiri. Entah itu berupa motivasi kerja, manajemen hingga menemukan dengan pemilik modal.


Dalam bidang permodalan Pram menegaskan, bahwa pihaknya hanya sampai menemukan antara mantan peserta pelatihan dengan instansi perbankan yang memiliki uang. Selama ini pihak perbankan yang mau diajak kerjasama baru BRI melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sebab dinilai lebih menguntungkan bagi pengusaha, sebab bunganya rendah dan tanpa anggunan. Namun pinjaman tadi hanya di bawah kisaran Rp 5 juta. Sementara itu dari data yang ada di Disnakertrans Purworejo jumlah program pelatihan tahun 2008 secara kuantitas menurun drastic, jika dibandingkan dengan jumlah program pelatihan di tahun 2007 lalu. Di tahun 2008 hanya ada 23 paket, sedangkan di tahun 2007 lalu mencapai 50 paket. Hal tersebut dapat terjadi, karena memang adanya pengurangan anggaran, baik dari pusat maupun daerah. (Jhon)

Selasa, 22 Juli 2008

Sindikat Ranmor Berhasil Dibekuk Polisi


Jajaran Polres Purworejo dalam waktu semalam mampu membongkar sebuah sindikat curanmor. Polisi berhasil membekuk 3 orang tersangka yang diduga kuat telah melakukan pencurian terhadap sebuah sepeda motor. Penangkapan tersebut dilakukan setelah ada dua kejadian pencurian di wilayah hukum Polres Purworejo, Selasa (8/7).

Menurut Kasatreskrim Polres Purworejo AKP Suliyanto, laporan pencurian pertama diterima polisi pada pukul 20.30 WIB. Korban bernama Dimas Anggoro, warga Perum Argopeni, Kutoarjo. Adapun sepeda motor yang hilang jenis Honda Supra Fit warna kombinasi hitam dan silver, dengan nomor polisi AA-5021-YC.


Suliyanto menambahkan, sedangkan laporan pencurian berikutnya diterima polisi sekitar pukul 21.00 WIB. Kali ini yang hilang sebuah sepeda motor jenis Yamaha Yupiter Z warna biru, dengan nomor polisi AA-5000-CL. Sepeda motor tersebut hilang di Desa Semawung Daleman, Kutoarjo. Secara kebetulan sepeda motor tadi adalah milik salah satu anggota Polres Purworejo.


Ketiga tersangka berhasil dibekuk oleh tim gabungan Reskrim Polsek Kutoarjo dan Polres Purworejo di salah satu rumah tersangka di Kepil, Kabupaten Wonosobo. Ketiga tersangka itu adalah Sinurjuki alias Juki (26) warga Dusun Grogol, Desa Beran, Kecamatan Kepil, Wonosobo, Oky Valentino (28) warga Perum Ambarukmo Blok 7/232 Jogjakarta dan Suswanto (22) warga RT 04/RW 03 Mriyan Wetan, Kecamatan Kedu, Temanggung.


Di rumah Juki polisi juga berhasil menyita sebuah sepeda motor jenis Honda Supra Fit milik Dimas Anggoro yang sudah di-preteli. Sayang sepeda motor jenis Yahama Yupiter Z yang ikut hilang hingga saat ini belum diketemukan. Namun dugaan kuat pelakunya juga merupakan anggota sindikat ini. Ketiga tersangka tadi baru mengakui perbuatan pertamanya, namun untuk pencurian kedua sama sekali belum ada pengakuan dari ketiga tersangka, termasuk tempat menyembunyikan barang bukti.


Ketiga tersangka tersebut merupakan residivis kambuhan. Sudah berkali-kali melakukan tindak pencurian sepeda motor dan sudah berkali-kali pula keluar masuk bui. Untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya ketiganya kini harus menginap di hotel prodeo Mapolsek Kutoarjo. (Pio)